Foto: telusur.co.id

telusur.co.id – Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) meminta agar segenap masyarakat untuk menghentikan penggunaan istilah ‘kampret’ dan ‘kecebong’ dalam politik.

Ketua Matakin, Uung Sendana menilai penggunaan istilah binatang dan dilabelkan ke manusia merupakan penghinaan terhadap Sang Pencipta.

Ia pun meminta agar pengunaan ‘Kampret’ dan ‘Kecebong’ untuk segera dihentikan.

“Kita sebaiknya tidak menggunakan kemuliaan nama dengan istilah binatang. Seperti misalnya penggunaan binatang Kecebong dan Kampret. Itu sama saja menghina Tuhan kita,” kata Uung dalam konperensi pers di Kantor CDCC, Brawijaya VII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (10/7/18).

Uung menambahkan, manusia adalah mahluk ciptaan tuhan yang sangat dimuliakan kedudukannya. Sangat tidak elok jika nama-nama yang memiliki arti khusus, lantas dicemarkan dengan memakai istilah binatang. Apalagi penggunaan ini hanya untuk kepentingan politik sesaat.

Terkait dengan pemakaian identitas dalam berpolitik, Matakin tidak mempermasalahkan. Namun, politik identitas ini tidak boleh menjadia alasana untuk melakukan ujaran kebencian dan menyakini sesama manusia.

“Tapi jangan saling menyakiti saling mengina satu dan yang lain. Kalau ujaran kebencian perlu dicegah dan tidak boleh berlanjut,” kata dia.

Seperti diwartakan, dalam kajian Tauhid di Masjid Istiqlal, pendakwah Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, meminta masyarakat untuk tidak memanggil orang dengan gelar yang buruh yaitu ‘Kecebong’ dan ‘Kampret’. [ipk]

Bagikan Ini :