telusur.co.id – Wakil Ketua DPR RI, Dr Fadli Zon melakukan pertemuan terbatas dengan Menteri Pertanian Lebanon, H.E Mr. Y.M. Ghazi Zeaiter di Kantor Kementerian Pertanian Lebanon, Selasa waktu Beirut (10/07/2018).

Fadli Zon memimpin delegasi DPR RI antara lain Elnino M.Husein Mohi (Komisi I), Hj. Ratieh Sanggarwaty (Komisi X), Tubagus Soenmandjaja Roekmandis (Komisi III), Andika Pandu Puragabaya (Komisi I), Deding Ishak (Komisi VIII) dan didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon, H.E. Achmad Chozin Chumaidy.

Kunjungan kerja DPR RI ke Lebanon bertujuan mempererat hubungan bilateral dan membuka peluang kerja sama di berbagai bidang, utamanya bidang pertanian, perdagangan, pendidikan, pertahanan dan antarparlemen.

Lebanon menjadi negara yang penting untuk dikunjungi karena adanya 1297 personel TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Kontingen Garuda di UNIFIL PBB.

“Kami ingin mengetahui lebih jauh bagaimana strategi pemerintah Lebanon dalam sektor pertanian,” kata Fadli melalui keterangan tertulisnya.

Selain punya 65% lahan pertanian, Lebanon juga punya produksi unggulan di sejumlah komoditas seperti kentang dan buah-buahan. Mereka impor produk pertanian perkebunan dari Indonesia seperti minyak kelapa sawit, kopi, teh dan lain-lain. Khusus kopi, masyarakat Lebanon rupanya sangat menyukai kopi Indonesia. Saat ini produk kopi Indonesia menguasai 93% pasar Lebanon.

Pertemuan dengan Menteri Pertanian juga menjadi forum mendiskusikan peluang-peluang yang mungkin terjalin dalam merealisasikan MoU pertanian antara Indonesia-Lebanon, ungkap Fadli Zon.

Menteri Pertanian Lebanon, Ghazi Zeaiter menyampaikan pentingnya membuka akses pasar Lebanon di Indonesia dan sebaliknya. Keterbukaan pasar Indonesia-Lebanon menjadi kunci menjalin hubungan kerjasama.

Selain itu, Lebanon juga memiliki beberapa keterampilan dalam bidang pertanian dan berpeluang untuk kerjasama jual beli alat mesin pertanian yang berkualitas dan berpeluang melakukan joint investment.

Selain membicarakan peluang kerjasama dalam sektor pertanian, Mentan Lebanon juga menyampaikan persoalan ketersediaan makanan dalam menghadapi banyaknya pengungsi di Lebanon. Sejak tahun 2011 setidaknya ada 1,5 juta pengungsi Suriah di Lebanon. Untuk itu, pemerintah Lebanon harus memiliki strategi dalam mencukupi ketersediaan pangan.

Fadli Zon yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menyatakan pentingnya Indonesia menjalin kerjasama di bidang pertanian dengan Lebanon untuk meningkatkan akses pasar bagi produk pertanian, keterampilan petani terutama pada pendidikan, riset, serta teknologi pertanian.

Pada sektor pertanian, Lebanon menempati proporsi tertinggi lahan pertanian di Timur Tengah. Wilayah pertanian mencakup sekitar 65% dari wilayah Lebanon (hampir setara dengan 6800 km2). Sektor pertanian menghasilkan sekitar 3,5 % dari GDP Lebanon.

Sektor ini mempekerjakan sekitar 6% dari tenaga kerja Lebanon, penyedia lapangan kerja terbesar ke-5. Sementara ini, ekspor utama Lebanon untuk produk pertanian adalah Negara-Negara Timur Tengah yang mencapai 95,3% dari total ekspor pada tahun 2017.

“Kerja sama antara Indonesia dengan Lebanon, khususnya di bidang pertanian harus terus dioptimalkan. Adanya MoU di bidang pertanian, dapat menguatkan kerjasama sektor pertanian dan peternakan untuk peningkatan perdagangan komoditas di antara kedua Negara. Lebanon merupakan negara dengan luas wilayah yang cukup besar dan memiliki produk unggulan tertentu di bidang pertanian,” ungkap Fadli Zon. (ham)

Bagikan Ini :