Ilustrasi/telusur

telusur.co.idPublik kian dibuat penasaran dengan belum diumumkannya siapa calon wakil presidennya Jokowi dan siapa calon penantang mantan Gubernur DKI Jakarta ini?

Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) Jerry Massie menilai ada beberapa penentuan dan kriteria sebelum 5 nama pendampingnya diumumkan seperti uji kepatutan dan kelayakan

pasangan.Menurut Jerry, ada berbagai pertimbangan dan alasan untuk menentukan cawapres.

Selain faktor partai, chemistry,  kecocokan, koalisi, faktor kelompok relawan, hasil survey dan utama kebutuhan warga.

Siapa yang paling pantas, kekuatan umat, kekuatan ekonomi, parpol, atau militer?

“Ini memang perlu di kaji kalau PPP dan PDIP sempat menyampaikan bahwa mereka bakal mendukung salah satu ekonom terbaik,” kata dia.

Begitu pula tutur Jerry, seandainy tokoh muda paling tidak dipastikan akan mengerucut ke AHY dan Rommy. Sebaliknya, kalau Jokowi melirik partai, otomatis Airlangga lebih  berpeluang. Sedangkan untuk koalisi Umat ada TGB dan Aher.

Untuk TNI kata dia, dua nama berpeluang yakni Moeldoko dan Gatot Nurmantyo. Namun Moeldoko lebih punya kans selain kedekatan faktor hubungan emosional.

“Tapi ini perlu juga pembahasan melibatkan semua elemen pendukung Jokowi. Politik Wayang perlu dimainkan seleksi namun selektif,” tutur Jerry.

Tapi semua ini sebut dia, Presidential Threshold sangat menentukan 20 persen suara parlemen.

“Penentuan di partai atau party power and parlement power sangat penting di last time. Kan  walau calon tersebut good (baik) belum tentu dia best (terbaik) apalagi better (lebih baik).

Jerry pun menyebut, apabila pasangan nusantara Jawa – Sumatera bisa saja (Jokowi – Rizal Ramli)  ataupun (Jokowi – Jimly Asshiddiqie). Kalau sesama suku Jawa (Jokowi – Moeldoko), (Jokowi – Mahfud MD), atau (Jokowi – Airlangga).

Jika pasangannya kelompok gender, maka paling berpeluang Puan Maharani ataupun Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti.

Saat ini tuturnya, yang diperlukan di negara ini leader yang needs  bukan wants (kebutuhan bukan keinginan). Dan the most matter most adalah pendamping Jokowi mampu menjawab kebutuhan publik, bisa di ajak kerja sama, kompeten, bijaksana dan menguasai masalah bangsa.

Untuk menang di Pilpres kata Jerry, maka daerah ini harus kuasai Green Province Jatim (PKB) ada 30,1 juta pemilih, Red Province Jateng (PDIP), 27,3 juta pemilih, White Province (Gerindra) Jabar 31,7 juta pemilih dan (Yellow province) Banten serta (Sulsel). Atau battle ground province Jatim, Jabar, DKI Jakarta dan Jateng. Jadi siapa capres yang kuasai daerah ini maka mereka akan menang.

“Kalau di AS lebih dikenal dengan blue state (California) 55 Electoral College dan Red State (Texas) 38 Electoral College),” katanya.

Santer beredar Anies akan maju pilpres, namun sebaiknya dia mengurus Kota Jakarta dulu.

Lawan Jokowi paling berat dipastikan Prabowo Subianto yang didukung Partai Gerindra dengan 13 persen atau 73 kursi di parlemen serta PKS. Tapi syaratnya dua oposisi ini afiliasi politik.

“Golkar dengan kekuatan 16,2 persen atau 81 kursi sangat menentukan koalisi pemerintah. Tapi, Golkar tak bisa goyah di koalisi pemerintah. Nah! tinggal PKB yang belum  making decision (membuat keputusan) kemana arah mereka akan berlabuh. Cak Imin memang ngotot tapi dia perlu koalisi antara Demokrat atau PKS serta Gerindra,” kata peneliti politik di Amerika ini.

Suara PKB di parlemen ada 9,4 persen suara, jadi perlu berkoalisi dengan partai lain agar bisa mencalonkan Presiden  Untuk PKS Aher lebih berpeluang ketimbang Anies Matta dan Ketum PKS Sohibul, Mardani Ali Sera dan Hidayat Nur Wahid. Cukup berpengaruh juga TGB afiliasi ke gerbong pemerintah.

TGB dan Aher dua kandidat kuat koalisi umat. Nasdem punya power. Waktu lalu Jusuf Kalla naik yang di topang Nasdem. Nereka pun lebih confidence dengan 11 kemenangan di 171 pilkada serentak, justru PDIP hanya menang 4 calon. Dan Gerindra (3).

“Calon JK sebetulnya adalah Anies Baswedan, ini jagoannya sejak pilkada DKI Jakarta. Kalau Gatot harus melewati Prabowo, kecuali melalui jalur PAN dan PKS. Jadi lebih pantas 5 nama TNI (Moeldoko), Partai Airlangga Hartarto, Tokoh muda Rommy dan Ekonom Rizal Ramli ketimbang Sri Mulyani yang prestasinya biasa-biasa saja,” ucapnya.

Sementara jelasnya, Prabowo – Anies cukup kuat juga apabilah mengarah ke sejumlah survei. Pasalnya, Prabowo didampingi calon koalisi umat yang kuat maka ini berbahaya bagi Jokowi.

Disini sebut Jerry, tidak ada Zulkifli Hasan padahal dia juga punya peluang. Untuk Tito barangkali dia gak akan maju seperti disampaikannya beberapa waktu lalu.

“Peluang besar juga ada pada mantan Ketua MK Mahfud MD. Bisa saja dia diplot NU mendampingi Jokowi,” ujar dia.

Bakal ada kejutan ujarnya, apabila nantinya Ketua MUI KH Ma’aruf Amin di pasangkan dengan Jokowi. Bisa saja ini akan menggerus koalisi keummatan.(Red/Ist).

Bagikan Ini :