telusur.co.id – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oesman Sapta (senator asal Kalimantan Barat) akan menerima gelar doktor kehormatan di bidang politik dan urusan publik dari Universitas Euclid.

Euclid adalah organisasi antarpemerintah yang didirikan tahun 2008, memegang mandat universitas, dan piagam yang diterbitkan United Nations Treaty Series. Jadi, Universitas Euclid dilahirkan berdasarkan perjanjian internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menawarkan program multidisiplin dan berkampus di Banjul, Gambia.

“Sungguh kehormatan luar biasa bagi kami untuk resmi mengonfirmasikan doktor kehormatan bidang politik dan urusan publik dari Universitas Euclid,” ujar Presiden Universitas Euclid Syed Zahid Ali, saat beraudiensi dengan Oesman di lantai 8 Gedung Nusantara III Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/7).

“Saya mengucapkan terima kasih atas penganugerahan gelar doktor kehormatan dari Universitas Euclid. Kampus saya adalah universitas kehidupan. Anda membaca buku, mengenal satu orang. Anda mengalami hidup, mengenal banyak orang. Anda memahami dunia dan kehidupan,” ucap Oesman menanggapi ucapan Syed Zahid Ali.

Syed Zahid Ali menjelaskan, Universitas Euclid adalah satu-satunya universitas berbasis perjanjian dunia yang keanggotaannya terdiri atas 12 negara mencakup empat benua.

Dia melanjutkan, gelar doktor kehormatan dari Universitas Euclid diberikan kepada figur yang berkontribusi besar terhadap kemajuan masyarakat dan kemanusiaan. Gelar doktor kehormatan ini menjadi sangat berarti karena gelar doktor kehormatan yang pertama diberikan Universitas Euclid kepada pemimpin Indonesia.

Universitas Euclid menilai, Oeman berkontribusi besar bagi kemajuan pembangunan demokrasi Indonesia melalui kepemimpinannya sebagai ketua umum Partai Hanura dan ketua DPD. Kemudian, ia adalah mentor yang memotivasi generasi muda Indonesia sekaligus politisi dan pengusaha yang paling dapat ditiru.

“Oesman telah menetapkan contoh asli noblesse oblige karena melibatkan dirinya secara aktif dalam pembelajaran aksi di semua perjuangan hidupnya yang keras, hingga posisinya yang lebih tinggi dalam politik dan bisnis yang memberikan lebih banyak keuntungan bagi Indonesia,” ucap Syed Zahid Ali.

Perwakilan Universitas Euclid untuk Indonesia dan Timor Leste, Datuk Agung Sidayu, menambahkan, kisah sukses tersebut diraih setelah Oesman tumbuh dalam keluarga yang terbiasa bekerja keras dan bekerja cerdas sejak muda. Setelah memulai sebagai buruh dan pedagang skala kecil, Oesman memulai bisnis konstruksi yang sukses yang perusahannya bercabang menjadi 11 perusahaan di bawah manajemen OSO Group. Mulai dari properti hingga pertambangan, perkebunan, dan banyak lainnya, Oesman menghasilkan cukup kekayaan untuk dicatatkan dalam daftar Globe Asia 2016 sebagai urutan ke-150 orang Indonesia terkaya.

Datuk Agung Sidayu melanjutkan, bagaimanapun, Oesman memberikan kembali hasil jerih payahnya kepada masyarakat–terutama masyarakat adat di Indonesia–sejak tempat kelahirannya di Sukada, Kalimantan Barat, hingga kampung halaman ibunya di Sulit Air, Sumatera Barat.

Oesman tidak hanya berfokus pada orang-orang pendatang yang bermigrasi tetapi juga penduduk lokal. Atas usahanya, ia diadopsi keluarga besar Suku Dayak Kayan, serta menerima gelar adat datuk Melayu dari Bangka Belitung dan gelar adat Minangkabau. Selain memiliki kursi di DPD, Oesman juga memiliki kursi di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), memegang posisi di Himpunan Kerukuran Tani Indonsia (HKTI), organisasi kemasyarakatan seperti Gebu Minang, organisasi olahraga, organisasi bisnis seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dan banyak lagi.

Datuk Agung Sidayu membandingkan Oeman dengan John Major, mantan Perdana Menteri (PM) Inggris yang meninggalkan sekolah formal sejak berusia 13 tahun, tetapi melakukan sejumlah aksi pembelajaran di berbagai media hingga berhasil mencapai posisi tertinggi dalam politik di Inggris. (ham)

Bagikan Ini :