Kementerian BUMN/Net

telusur.co.id – Center For Budget Analysis atau CBA menemukan dua modus dalan pengadaan barang dan jasa di Kenenterian BUMN.

Disampaikan Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi bentuk modus tersebut, yakni setiap tahun memilih pemenang lelang, hanya perusahaannya itu saja yang memang.

“Dan modus kedua, ada dugaan mark up dengan memilih perusahaan yang menawarkan harga paling tinggi,” kata Uchok kepada wartawan, Selasa (21/8/18).

Untuk modus memilih perusahaan sebagai pemenang lelang, bisa dijadikan contoh adalah PT. Pricewaterhouse Coopers Consulting Indonesia dari tahun 2016 sampai 2018 bisa memenangkan lelang sampai senilai Rp 11.9 miliar

“Jadi cukup aneh bin ajaib, di Kementerian BUMN setiap tahun kok bisa yang selalu memenangkan perusahaan itu itu saja. Dan ini sama saja, APBN hanya memberikan makan yang kenyang hanya untuk satu perusahaan dengan orang yang sama.”

BACA JUGA :  KPK Disebut Tak Punya Visi Jelas Soal Pengembalian Aset

Tetapi, kata dia, jangan-jangan ada dugaan kongkalikong dalam proses dalan pelelangan tersebut, sehingga yang dapat dan kenyang makan APBN itu itu saja.

Modus kedua, dijelaskan, seperti pada tahun 2018 Kementerian Badan Usaha Milik Negara ‘menyerahkan’ pembangunan kontruksi Renovasi Cladding Gedung Utama kepada PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung dengan nilai sebesar Rp 47 miliar.

Ternyata, dalam lelang ini, ditemukan potensi kerugian negara sebesar Rp 1 miliar karena pihak panitia memilih pemenang lelang yang nilai harga paling mahal dan tinggi.

Padahal waktu pembangunan proyek equestrian park, PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung ditemukannya juga banyak persoalan. Salah satunya, pembayaran kepada para supplier (sub kontraktor) pernah tidak dipenuhi sesuai skema pembayaran atau termin yang diatur dalam kontrak.

BACA JUGA :  Pimpinan KPK Diingatkan Tak Langgar Aturan

Dari dua modus ini, pihaknya meminta KPK untuk menyelidiki kasus kasus tersebut. Bila perlu, KPK memanggil dan memeriksa Sekretaris Kementerian BUMN, yang juga menjabat wakil Komisaris utama Bank Mandiri, Imam Apriyanto Putro.

“Bila diperluhlkan panggil juga Hambra, Deputi Bidang Infrastruktur Bisnis, dan juga menjabat sebagai Komisaris PT. Semen Indonesia,” kata Uchok. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini