Oleh: Muhammad Husni Mubarok

TANGGAL 18 Agustus 2018, publik Indonesia dibuat takjub oleh kemegahan pembukaan Asian Games, yang membuat kita semua tercengang oleh profesionalisme panitia, yang sukses mempersiapkan acara seremonial pembukaan Asian Games, dan berjalan dengan gegab gempita.

Semua peserta, atlet Asian Games atas nama negaranya berlomba menjunjung tinggi asas profesionalisme dan sportifitas dalam bertanding.

Semua lapisan masyarakat Indonesia spontan bersatu padu memperlihatkan rasa Nasionalisme sebagai bangsa yang bisa berlomba mengalahkan perserta lainnya. Semua orang berharap atlet Asian Games perwakilan tuan rumah Indonesia mampu mebawa medali emas di masing- masing kejuaraan.

Sambutan Ketua Panitia Asian Games 2018, Erick Thohir sangat menyentuh kalbu dengan segala kelincahannya, baik bahasa, lisannya, maupun bahasa tubuhnya yang menggambarkan bahwa dirinya sangat menguasai psikologis atlet, maupun para undangan dan publik Indonesia pada umumnya.

Satu pesan penting yang dapat kita ambil dari sambutan saudara Erick Thohir adalah: kita harus menjunjung tinggi Sportifitas dan Profesionalisme kita dalam bertanding. Bersatu kita kuat, bercerai kita berantakan, itulah substansi dari apa yang disampaikan Erick Thohir saat menyampaikan kata sambutannya di Pembukaan Asian Games 2018, digelora Bung Karno, Senayan, malam itu.

BACA JUGA :  Debat Ronde 2, Prabowo-Sandi Akan Jabarkan Jurus Ketahanan Pangan Dan Energi

Pada kesempatan yang lain, tanggal 9 Agustus 2018, kita saksikan hiruk pikuk perpolitikan di Indonesia, yang menggambarkan betapa Politik itu adalah hanya soal “siapa mendapatkan apa, kapan dan di mana”. Hari itu kita disuguhkan pola, sikap, intrik dan manuver para politikus sejati yang sukses dan konsisten mempertahankan asas.

“Tiada kawan yang abadi dan tiada lawan yang abadi,, yang ada hanyalah kepentingan pragmatis yang abadi”.

Kelompok yang satu mempertontonkan betapa dinamisme politik adalah hal yang lazim menjadi hukum alam di dalamnya, sampai pada akhirnya mereka dicemooh karna dianggap Pemberi Harapan Palsu (PHP) kepada Prof. DR. Mahfud MD yang konon katanya telah diarahkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menjahit baju deklarasinya.

BACA JUGA :  Nggak Ada Bosannya, Sandi Fokus di Sektor Ekonomi

Disisi lain, kelompok sebelah pun sukses membuat publik Indonesia terbelangak, bukan karna mereka telah meraih prestasi seperti Defia Rosmaniar dan Eko Yuli Irawan peraih medali emas di Asian Games 2018, tetapi karna mereka telah dihujani oleh gesekan internal mereka yang pada akhirnya memunculkan istilah “Jendral Kardus”.

Diakhir tulisan ini, saya ingin sampaikan bahwa keduanya, baik Asian Games 2018 maupun proses Pilpres 2019 telah sama- sama menorehkan pesan dan kesan kepada kita semua, secara langsung atau secara tidak langsung bahwa satunya gegab gempita berlomba ingin peraih prestasi dengan cara yang profesional, dan yang satunya berlomba “pura-pura” ingin membuat prestasi dengan cara “sesuka hatinya”. [***]

*Penulis adalah tokoh muda Indonesia asal Madura

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini