telusur.co.id – Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies (IPS), Muhammad Tri Andika menyatakan viralnya video Presiden Jokowi mengendarai motor dalam opening Asian Games, tentu memiliki efek positif terhadap tingkat popularitas Jokowi.

“Melalui video tersebut, Presiden Jokowi mengulang pesan yang sama dengan kampanye 2014. Merakyat, reachable (mudah dijangkau). Dan pesan tersebut mudah diterima oleh seluruh segmen pemilih. Terutama oleh kelompok usia 17-35 tahun yang besarnya mencapai 45% pada tahun 2019 nanti,” ungkap Tri Andika kepada wartawan, Senin.

Namun, kata Andika, meningkatnya popularitas Jokowi dalam momen Asian Games, belum tentu diikuti oleh peningkatan elektabilitasnya di pemilu yang akan datang. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, mayoritas pemilih dari beragam survey adalah pemilih yang didorong oleh preferensi sosiologis dan rasional.

BACA JUGA :  Gerindra Otpimis Prabowo Menang Satu Putaran

Berdasarkan catatan IPS, pemilih yang berdasarkan faktor sosiologis, seperti kesamaan identitas agama dan suku, sebesar 26.7 persen. Sementara pemilih rasional yang memilih berdasarkan evaluasi kebijakan, visi, rekam jejak, dan kompetensi, sebesar 18 persen. Faktor-faktor lain berada di bawah 11 persen.

“Artinya, insentif popularitas yang diperoleh Presiden Jokowi dari video opening Asian Games kemarin, tidak serta merta meningkatkan elektabilitasnya,” katanya.

Kedua, Jokowi saat ini menghadapi tantangan kebijakan yang sangat serius. Kurs rupiah yang terus merosot, neraca perdagangan yang defisit, carut marut tata kelola Pertamina, hingga tantangan penanganan bencana alam di Lombok.

BACA JUGA :  Harus 'Bantai-Bantaian', Fahri Sarankan Prabowo Jangan Santun Dalam Debat

Hal-hal tersebut, jika tidak ditangani dan direspon baik oleh pemerintah, akan tetap menjadi catatan kritis pemilih. “Dan berpotensi menggerus elektabilitas Jokowi,” tutupnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini