Din Syamsuddin/Net

telusur.co.id- Melakukan protes suara volume azan dengan baik tidak bisa langsung disebut penistaan agama. Namun, bila memprotes sembari mencela dan menghina, maka hal itu masuk dalam delik penistaan agama.

Demikian disampaikan oleh mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam keterangannya, Senin (27/8/18). Pernyataan Din menanggapi putusan PN Medan yang memvonis 18 bulan penjara terhadap Meiliana karena dianggap menista agama. Dimana, sebelumnya Meiliani memprotes suara volume azan di masjid dekat rumahnya.

“Kalau dia menolak sambil mencela adzan sebagai ajaran atau praktik keagamaan, maka itu termasuk menistakan agama,” ujar Din.

BACA JUGA :  Kunjungi Redaksi Telusur.co.id, Margarito: Ini Media Bagus

Menurut Din, bila memprotes volume suara azan karena dianggap terlalu keras, dilakukan dengan cara kasar dan sinis, bahkan mencela, menghina, maka hal itu tak bisa cuma dianggap sebagai biasa protes biasa.

“Bukan memprotes suara adzan, tapi mencela praktek keagamaan umat agama lain. Maka, sesungguhnya dia menistakan agama,” ungkap Din yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban.

Seperti di wartakan, PN Medan menjatuhkan vonis penjara 18 bulan kepada Meiliana, lantaran terbukti melanggar pasal 156 KUHP atas tindakan dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini