net

telusur.co.id – Setelah sanksi ekonomi Amerika Serikat berlaku, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif langsung mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho di Teheran, Iran.

Pertemuan pada hari Selasa antara dua diplomat top dari negara-negara baik di bawah sanksi Amerika bertepatan dengan kembalinya sanksi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump telah digambarkan sebagai “yang paling menggigit pernah”.

Pertemuan itu, bukan merupakan pertemuan itu “kemungkinan bukan kebetulan”. Iran ingin memperlihatkan jika masih banyak teman dimana-mana. “Tanya saja UE, Rusia, Cina, dan puluhan mitra dagang kami yang lain,” lanjut Zarif seperti dilansir aljazeera.com.

Bahkan dalam sebuah posting media sosial pada Selasa malam, Zarif menulis bahwa “dunia sedang sakit & lelah dengan unilateralisme AS”, menambahkan bahwa “dunia tidak akan mengikuti impulsif tweeted diktats”.

Sebelumnya pada hari Selasa, Trump menulis di media sosial bahwa “siapa pun yang berbisnis dengan Iran TIDAK akan melakukan bisnis dengan Amerika Serikat”. “Saya meminta damai dunia, tidak kurang!” Kata Trump.

Pernyataan Trump ini ingin memperlihatkan bahwa negara-negara lain tidak boleh berbisnis dengan Iran.

Namun Ali Vaez, direktur Proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan sanksi AS saat ini akan berdampak lebih kecil terhadap Iran dibandingkan dengan langkah-langkah sebelumnya.

“Sanksi efektif karena mereka memiliki dukungan internasional. Kali ini, AS pada dasarnya menindas seluruh dunia menjadi patuh. Ada banyak negara yang tidak akan mematuhi seperti China atau Rusia,” katanya. “Akibatnya, rezim sanksi bocor tidak akan seefektif babak sanksi sebelumnya.” (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini