Kwarnas Gerakan Pramuk Eko Sulistio. FOTO: Dok. Pramuka

telusur.co.id– Senyum sumringah terlihat di wajah anak-anak pengungsi Somalia saat bertemu relawan Pramuka, Eko Sulistio. Eko saat ini berada di Somalia dalam rangka program kemanusiaan untuk mendistribusikan hewan kurban dan bahan makanan kepada pengungsi Somalia dan Kenya. Sebelumnya, selama dua minggu, Eko mendistribusikan bantuan kepada korban gempa di Lombok, NTB.

“Alhamdulillah bantuan dari rakyat Indonesia datang. Asyik. Terima kasih banyak rakyat Indonesia, terima kasih Pramuka Indonesia,” ujar Eko Sulistio menirukan ucapan Aisyah, salah satu anak kecil pengungsi Somalia.

Konflik yang berkepanjangan di Somalia mencerabut anak-anak pengungsi dari tanah kelahirannya. Saat anak-anak di negara-negara lainnya menikmati bangku sekolah, mereka bersama ratusan ribu rakyat Somalia harus hidup bertahun-tahun di kamp-kamp pengungsian.

Selain Aisyah, anak-anak kecil lainnya dan warga Somalia yang berada di kamp pengungsian menyambut gembira bantuan yang dibawa oleh Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka urusan Abdimasgana, Eko Sulistio. Bantuan itu berasal dari masyarakat dan lembaga kemanusiaan di Indonesia.

BACA JUGA :  Buka PPSN V, Menag: Semoga dari Kalian Lahir Pemimpin Masa Depan

Eko berada di Somalia dari tanggal 18-29 Agustus 2018. Sebanyak 200 ekor kambing dan 30 ekor sapi disembelih, dan selanjutnya dagingnya dibagikan ke kamp-kamp pengungsian di Mogadishu Somalia, seperti Kamp Garasbalay, Kamp Refugee, dan Kamp Eldere Denile. Selain daging kurban, Eko Sulistio juga membagikan 500 paket bahan makanan, 1000 bungkus biskuit dan 1000 batang coklat.

Dalam distribusi bantuan tersebut, Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka urusan Abdimasgana ini, dibantu penuh pihak KBRI Nairobi, Kenya. Saat di Somalia, Eko Sulistio dibantu mitra lokal Zamzam Foundation.

BACA JUGA :  Gerakan Pramuka Pangkalan Unitomo Bangun Karakter Generasi Milenial Lewat LK2P

Dalam mendistribusikan bantuan, Eko mengaku sempat terkendala masalah keamanan yang belum stabil. Situasi keamanan ini cukup menyulitkannya. Terlebih, penduduk sipil di Somalia masih bebas memegang senjata.

Suhu panas yang sangat ekstrem cukup menyulitkannya dalam pergerakan untuk mendistribusikan bantuan. Bahkan, suhunya mencapai 40 derajat celsius lebih.

“Sulitnya kondisi pengungsian di Somalia menyebabkan sulitnya para pengungsi untuk antre dalam pendistribusian bantuan. Takut tidak kebagian sehingga berpotensi menimbulkan kericuhan,” terang Eko dalam keterangan persnya.

Sebelumnya, sekitar dua minggu, Eko berada di Lombok, NTB. Di sana, ia memberikan 50 lebih solar cell dan sejumlah bantuan lainnya seperti terpal, tenda, dan bahan-bahan makanan. Berbagai bantuan itu diperoleh dari swadaya masyarakat yang disampaikan melalui dirinya.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini