Din Syamsuddin/Net

telusur.co.id – Kuran arif jika para ulama mengeluarkan rekomendasi nama calon Wakil Presiden, untuk salah satu kandidat calon Presiden, di Pilpres 2019.

Demikian pendapat Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (4/8/18).

Kendati dirinya mengakui jika dalam Islam urusan politik tidak bisa dipisahkan. Namun kurang tepat jika merekomendasikan nama Cawapres hanya kepada salah satu calon.

“Itu sah adanya, tapi tidak arif kiranya,” kata Din Syamsuddin.

Dirinya menyarankan agar masyarakat dan ulama membiarkan proses demokrasi berjalan dengan apa adanya, sesuai dengan moral yang berlaku. Yaitu dengan memberikan kebebasan kepada para capres untuk memilih sendiri pendampingnya.

BACA JUGA :  Bawaslu Usut Jokowi Borong Sabun Rp 2M

Karena, kata dia, masalah cawapres adalah masalah memilih pendamping untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.

“Ulama boleh mengarahkan, tapi tidak membloking arah politik.”

Menurutnya, sangat bahaya apabila para ulama melakukan pemblokan politik. Karena akan terjadi ketegangan dan konflik perbedaan aspirasi.

“Umat ditarik ke kepentingan A, kepentingan B, pasti tegang. Sah-sah saja sejumlah ulama bertemu tapi harus ada kearifan para ulama,” kata dia.

Ia juga mengatakan, tidak masalah dengan siapapun cawapres yang akan dipilih Prabowo. Terpenting baginya, sosok itu harus pluralis dan tidak melupakan PKS dan PAN sebagai partai koalisi Gerindra sejak lama.

BACA JUGA :  Din Syamsuddin Ingatkan Ada Upaya Adu Domba Umat

“Siapa pun tidak masalah asal pluralis. Prabowo juga harus memperhatikan PKS dan PAN.” [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini