telusur.co.id-  Kuasa Hukum Syarifudin Arsyad Tumenggung, menilai perisitiwa krisis moneter pada 1997-1998 lalu, tugas Bank Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sangat berat. Karena, harusnya menyelematkan seluruh kondisi perbankan di Indonesia.

“Saya tanyakan pada ahli berpengalaman di bidang perbankan, sebenarnya situasi 1997 itu ekonomi kita baik-baik aja. Perbankan kita sehat semua, krisis itu terjadi ketika kita mengalami krisis dibidang moneter,” kata Yusril kepada wartawan usai mendengarkan pendapat saksi ahli  Mantan Komisaris Bank Central Asia (BCA), Sigit Pranomo, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (13/8/18).

BACA JUGA :  Jadi Lawyer Jokowi-Ma'ruf Amin, Diduga Yusril Bikin Jebakan Batman 

” (Ketika moneter) Kurs kita tiba-tiba terhempas jadi Rp2.500 jadi Rp12.000, sehingga semua kalang-kabut,” sambung dia.

Akibat kurs yang melonjak, ujar Yusril, pemerintah harus mengambil alih bank-bank di Tanah Air. Tujuannya agar kondisi perbankan bisa diselamatkan dan pulih kembali.

“Pemerintah mengambil alih bank-bank baik Bank Koperasi maupun bank take over dan tentu BPPN. Orang yang menangani BPPN ini kan mengani sampah pekerjaan nya setengah mati,” imbuh Yusril.

Oleh sebab itu, figur yang ditempatkan untuk menyelamatkan bank-bank di Indonesia, harus memiliki idealisme yang tinggi.

BACA JUGA :  KPK Akan Sasar Pidana Korporasi Kasus E-KTP, Golkar dan PDIP..?

“Sebenarnya itu orang-orang yang penuh idealisme untuk membantu negara,” ungkap Yusril.

Bahkan Yusril mengkalim, BPPN itu puncak kinerja yang terbaiknya ketika  Syarifudin Arsyad Tumenggung menjadi ketua.

“Ahli juga mengatakan justru BPPN kerja betul-betul itu di era nya pak Syarifudin saya kira iya. sampai tuntas itu di zaman beliau,” tukas dia.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini