telusur.co.id – Di HUT Konstitusi ke 73 Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberikan pidatonya sambutannya dihadapan pimpinan lembaga-lembaga tinggi negara.

Menurut JK, selama 73 tahun bangsa Indonesia merdeka, Pemerintah beserta MPR RI, sudah empat kali melakukan perubahan konstitusi atau amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Dimana, perubahan itu mengartikan bahwa konstitusi memiliki sifat yang dinamis dan dapat disesuaikan dengan kemajuan dan perkebangan politik.

“Empat konstitusi dijalankan bangsa ini. UUD’45, UUD RIS, UUD tahun ’50 dan UUD kembali ke ’45,” ujar JK di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8/18).

BACA JUGA :  Pertemuan Dengan JK, Presiden PKS: Hanya Silaturahmi

Saat ini kata JK perkembangan jaman semakin pesat. Sehingga, bukan tidak mungkin konstitusi pun bisa dilakukan perubahan.

Namun, jika ingin merubah kembali konstitusi, dirinya meminta MPR serta para akademisi melakukan evaluasi. Sebab jika salah akan berakibat buruk untuk kemajuan demokrasi Indonesia.

“Banyak negara-negara yang telah berubah. Nah bagaimana kita menghadapi negara-negara tersebut. Karena kita tidak mungkin berjalan sendiri. Untuk itu, bagi para peneliti dapat memberikan masukannya mengenai konstitusi kita,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, megamandemen UUD 45 bukanlah hal yang baru. Sebab, negara-negara besar seperti Amerika pun juga telah merubah konstitusinya sebanyak 72 kali.

BACA JUGA :  JK Tepis Pertemuan Dengan SBY Bahas Politik

Bahkan, dinegara seperti Thailand pun selama lima tahun selalu melakukan perubahan konstitusinya.

“Kita bersyukur Indonesia tidak seperti itu. Hanya merubah apabila dalam keadaan darurat saja,” ungkapnya lebih lanjut.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini