telusur.co.id – Nama perusahaan Lapindo yang sudah lama tak terdengar beritanya, kini muncul lagi di ruang publik.

Kemarin, PT. Lapindo Brantas Inc. menandatangani perpanjangan kontrak dengan pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kontrak yang diperpanjang, untuk mengelola Blok Brantas di Jawa Timur diperpanjang hingga tahun 2040. Kontraknya menggunakan sistem bagi hasil gross split.

“Selamat, kami hari ini menandatangani WK Brantas, salah satu dari 6 WK yang akan berakhir 2020,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ego Syahrial usai penandatanganan, di kantornya, Jakarta, Jumat (3/8/18).

Menurut Ego, WK yang akan berakhir namun diproses 2 tahun sebelum berakhir, untuk memberikan kepastian dan ruang fleksibel bagi investor. Penandatanganan kontrak kerja sama, kalimnya juga akan membuat operator meningkatkan produksi.

BACA JUGA :  Wamen ESDM Pastikan Pertamina Sudah Sediakan Pasokan BBM di Lokasi Bencana Palu

“Perpanjangan ini tujuannya menjaga produksi tidak turun, bahkan bisa naik,” katanya.

Lapindo adalah pemilik saham terbesar dari konsorsium yang diberi hak oleh pemerintah untuk mengelola blok tersebut. Lapindo memiliki 50 persen saham, sementara PT. Prakarsa Brantas 32 persen dan PT. Minarak Brantas 18 persen.

Penandatanganan perpanjangan kontrak tersebut sebelumnya didahului oleh penandatanganan tiga kontrak Wilayah Kerja (WK) Minyak dan Gas Bumi (Migas) terminasi lain yang berakhir kontraknya pada 2020, yakni WK Malacca Straits, Salawati, dan Kepala Burung Blok A, 11 Juli 2018 lalu.

BACA JUGA :  Pelepasan Blok Migas Baik Untuk Keuangan Pertamina

Dari perpanjangan kontrak bagi hasil WK Brantas, pemerintah menerima total bonus tanda tangan (signature bonus) sebesar US$ 1 juta atau setara Rp 13,4 miliar, dengan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menggunakan asumsi dalam APBN 2018, Rp 13.400.  Adapun perkiraan total nilai investasi dari pelaksanaan komitmen kerja pasti lima tahun pertama sebesar US$ 115,5 juta.

Seperti tertera dalam kontrak perjanjian, pemerintah akan mendapatkan 53 persen minyak dan 48 persen gas. Akan halnya bagian untuk kontraktor adalah 47 persen untuk minyak dan 42 persen untuk gas. Untuk domestic market obligation (DMO)-nya nanti sebesar 25 persen dari bagian kontraktor. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini