foto|net

telusur.co.id- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi keberanian dan tindakan tegas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga  (Disdikpora) Kota Probolinggo, Mochammad Maskur atas keputusannya mencopot Kepala TK Kartika dari jabatannya sebagai Kepala Sekolah.

Komisioner KPAI bidang Pendidikan , Retno Listyarti mengatakan, pencopotan terhadap kepala TK itu terkait dengan tampilan kontroversial siswa TK yang menggunakan cadar dengan replika senjata atau tiruan  saat pelaksanaan karnaval di Kota Probolinggo beberapa waktu lalu.

Menurut Retno, Disdikpora Kota Probolinggo adalah pihak yang paling berwenang melakukan pemeriksaaan dan pembinaan terhadap sekolah-sekolah di wilayahnya, termasuk TK Kartika.

“Apalagi keputusan tersebut sudah melalui mekanisme pemeriksaan internal terhadap pihak sekolah dan Kepala TK Kartika,” ujar Retno dalam keterangan resminya kepada telusur.co.id, Kamis (23/8/18).

BACA JUGA :  KPAI Sesalkan Persiapan Acara Untukmu Indonesia Tidak Matang

Sebagai PNS, kata Retno, sesuai dengan Peraturan Pemerintah  Nomor 53 tahun 2010, kewenangan pemberian sanksi sebagai bentuk pembinaan terhadap PNS berada di bawah kewenangan atasan Kepala Sekolah, dalam hal ini Kepala Disdikpora Kota Probolinggo.

Selain itu, sejak awal KPAI meminta Kasus Karnaval di Probolinggo tak dianggap remeh dan sepele.

Kasus ini harus menjadi catatan bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta dinas-dinas pendidikan lainnya.

“Apa yang terjadi di TK Kartika ini bisa jadi juga berlangsung di banyak sekolah lain, hanya mungkin tak diketahui publik lantaran tidak viral,” terangnya.

Sejak awal, KPAI menyayangkan adanya karnaval anak-anak mengenakan cadar hitam membawa senjata api tiruan tersebut. KPAI memandang, hal itu bukan sesuatu yang biasa , karena akan mengingatkan pada teror kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

BACA JUGA :  KPAI Minta Orang Tua Pantau Anaknya Saat Malam Tahun Baru

Retno mengakui, dalam peringatan HUT RI memang lazim memakai atribut yang unik dan lucu jika berkaitan dengan anak-anak, seperti baju adat maupun seragam profesi tertentu, seperti dokter, tentara, guru, pilot dan polisi.

Namun, memakai atribut cadar hitam dan membawa senjata api tiruan jelas bukan hal biasa.

“Jika memang ingin mengenalkan nilai kepahlawanan, semestinya pihak sekolah menganjurkan memakai aksesori para pejuang, seperti baju biasa, baju petani, dan bambu runcing,” ungkapnya.

Bagi Retno, pendidikan harusnya mempertajam pikiran dan menghaluskan perasaan.

“Pendidikan juga harusnya mampu menyemai keragaman di negeri yang majemuk ini atau dengan kata lain pendidikan wajib memperkuat nilai-nilai kebangsaan,” tuntasnya.[IPK]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini