Dr.H. Joni/telusur.co.id

Oleh: H. Joni.

DI HARI kemerdekaan ke 73 ini bangsa Indonesia berada di tahun politik. Khususnya menyongsong Pilpres dan Pileg tahun 2019. Pada satu sisi, dari sisi politik kita semakin dewasa, khususnya ketika ajang Pilkada serentak digelar bulan lalu. Perhelatan demokrasi lokal, dan karena serentak merupakan perhelatan nasional itu berlangsung sukses.

Demikian juga, masyarakat sedikit lega dengan pencalonan presiden dan wapres yang berlangsung beberapa waktu lalu. Tidak menimbulkan kegaduhan, kendatipun penuh kejutan. Namun itu semua adalah dinamika politik yang akan terus berlangsung dan berkembang sesuai perkembangan dinamika masyareakat yang sudah semakin matang dalam berpolitik.

Tak ada insiden yang mengkhawatirkan, sehingga menyebabkan suburnya benih konflik yang mengarah ke disintegrasi. Tidak ada korban baik jiwa maupun harta benda yang sia sia. Semuanya berjalan dan berlangsung aman terkendali. Hal ini menunjukkan warga bangsa Indonesia baik secara individu maupun komunal mampu melewati pesta politik dengan cerdas.

Namun di tahun 2018 ini, ketika kita berada di tahun ke 73 setelah kemerdekaan, dirunut dari tahun 1945, maka sejatinya kita berada pada kondisi ketidakpastian. Sekurangnya ketidakpastian ekonomi. Untuk itu 17 Agustus 2018, sebagai penyemangat harus dijadikan momenmtum dan terus berjuang lebih kuat demi kemerdekaan ekonomi. Tidak sulit untuk membuktikan, bagaimana sampai dengan 73 tahun kita merdeka masih belum sepenuhnya merdekia dalam bidang ekonomi

Ketidakpastian Ekonomi

Bahwa saat ini kondisi Indonesia, yang menjadi bagian dari negara di dunia berada pada situasi global. Kehidupan ekonomi satu bangsa pada umumnya terpengaruh dan memengaruhi perekonomian negara lain. Hal ini menjadi bagian tak terpisahkan dari globalisasi, yang menjadikan dunia ibarat sebuiah desa global.

Bukan berarti hal ini menjadi halangan untuk mandiri dalam bidang ekoinomi. Setidaknya, manakala ada badai krisis ekonomi melanda suatu kawasan, Indonesia sudah harus siap menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari kemandirian ekonomi, yang berarti merupakan aset besar guna merdeka pada bidang ekonomi. Bangsa lain boleh krisis, tetapi kita harus optimis untuk satu saat mempunyai fondasi yang kokoh dalam bidang ekonomi.

BACA JUGA :  Pemikiran Din Syamsuddin, Politik Alokatif: Perspektif Tindakan - Tutur Politik

Sebagai bangsa, harus bisa mencermati, ibarat suatu penyakit mengenali dan selanjuutnya mendiagnosis penyakit yang bersangkuta. Dalam bidanh ekonomi, beberapa “penyakit” yang merupakan permasalahan yang dihadapi Indonesia dan menjadi tantangan ekonomi pada era 73 tahun merdeka diantaranya adalah dalam soal pengaruh dari luar negeri.

Adalah Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Erwin Rijanto, mengatakan saat ini Indonesia harus mewaspadai banyaknya tantangan kondisi eksternal atau dari perekonomian luar negeri. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu perekonomian domestik. Tantangan eksternal pertama yang perlu dicermati adalah mengenai perkembangan perekonomian dan sistem keuangan global yang kompleks dan dinamis.

Secara teknis, pengaruh signifikan terhadap perkembangan ekonomi tanah air adalah akibat terjadinya badai ekonomi yang melanda Malaysia dan bebeapa negara tetangga di Asia. Pada saat sekarang ini Indonesia tidak pernah perkirakan sebelumnya, dalam hal sendi perekonomian, khususnya dalam bidang perdagangan. Pada waktu lalu begitu menguasai perdagangan internasional, pda perkembangannya mengalami defisit transaksi berjalan.

Tak pernah terbayangkan, untuk pertama kali dalam 60 tahun koalisi Barisan Nasional dapat kalah dalam Pemilu di Malaysia. Demikian juga pereekonomian Indonesia dibuat kaget untuk pertama kali sejak tahun 1953, Korea Utara memasuki Korea Selatan. Isu global yang dinamis tersebut menyebabkan risk on dan risk off di pasar keuangan global.

Pada sisi lain, pasca terjadinya badai ekonomi yang melanda negara maju, khususnya Amerika Serikat juga membawa dampak. Dari munculnya krisis atau badai ekonomi itu kemudian secara alamiah tentu dilakukan pemulihan. Hal ini pda giirannya mengakibatkan normalisasi kebijakan moneter global yang lebih kuat. Dari para pakar memberikan analisis bahwa US Treasury untuk 10 tahun itu bisa mencapai 4 persen.

Di benua Eropa, perkembangan baru dari perekonomian yang juga berpengaruh pada kondisi ekonomi global, yaitu yang terjadi di Argentina. Dalam hal ini, Bank sentral Argentina mengambil kebijakan dengan meningkatkan atau menyesuaikan policy rate sampai dengan 40 persen untuk menyikapi dinamika ekonomi global pada saat ini. Satu kebijakan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, menyusul nyaris bangkrutnya perekonomian negara yang bersangkutan.

BACA JUGA :  Memaknai Maulid Di Tahun Politik

Pada sisi lain, hal yang kemudian mengganggu kemerdekaan ekonomi Indonesia adalah dampak normalisasi kebijakan moneter global. Adanya global likuiditas rebalancing yang bersifat permanen yang antara lain terindikasi dari pengetatan likuiditas global ternyata berdampak pada pelemahan mata uang dunia. Secara politis hal ini tidak bermaksud untuk melegitimasi pelemahan mata uang rupiah. Namun secara obyektif yang terjadi adalah demikian, bahwa pelemahan nilai mata uang terjadi di seluruh mata uang dunia.

Intinya bahwa global likudity rebalancing yang bersifat permanen yang terjadi saat ini, dan sepertinya berlanjut untuk beberapa waktu ke depan adalah disebabkan oleh perubahan pola penempatan modal. Hal ini semakin massif, ibarat pertandingan semakin sengit tatkala masuknya Tiongkok dalam indeks banchmark seperti Morgan Stanley composite index atau MRSI yang sangat massif mempengaruhi situasi perekonomian global.

Tidak kalah pentingnya yang menjadi penghambat kemerdekaan dalam bidang ekonomi adalah mengenai masih tingginya ketergantungan perekonomian domestik terhadap pembiayaan eksternal. Dalam Bahasa sederhana adalah tingginya dana yang dipinjam dari luar negeri. Atau dengan Bahasa diperhalus tingginya bantuan dana dari negara asing.

Hal ini menyebabkan meningkatnya defisit neraca perdagangan, tingginya kepemilikan non-resident menjadi kendala dalam hal tingginya biaya pembangunan perekonomian domestik. Lebih jauh menyebabkan ketergantungan terhadap luar negeri di dalam pembiayaan pembangunan.

Tetap Optimistis

Berdasarkan beberapa kendala dalam bidang perekonomian ini kiranya tidak mematahkan semangat. Idealism untuk dapat menjangkau kemerdekaan ekonomi, dengan melepas ketergantungan pada ekonomi global bukan satu utopia. Setidaknya hal itu bisa dilakukan dengan meningkatkan efektivitas terhadap berbagai komponen yang menjadi motivator perekonomian. Pada sisi lain dnegan meningkatkan efisiensi di segala lini serta memaksimalkan pemakaian produk dalam negeri.[]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini