Prof.Din Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI)/Net

Oleh: Rusdianto Samawa

YANG dimaksudkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam secara formal tidak menyebut dirinya sebagai organisasi politik (partai politik), Namun pada prakteknya tidak dapat menghindar dari kegiatan politik baik secara langsung maupun tidak langsung.

Adapun istilah Politik Alokatif, sebagaimana dalam judul tesis ini sebenarnya tidak begitu populer dalam diskursus tentang politik di Indonesia, sebab istilah ini bukan istilah baku dalam ilmu politik.

Istilah ini dikemukakan oleh Davis Easton, seorang pakar politik dari Amerika. Istilah ini sangat populer setelah Din Syamsudin menulis disertasi doktornya dengan judul Muhammadiyah Dakwah and Allocative Politics in The New Order Indonesia.

Secara ringkas bahwa Politik Alokatif merupakan aktifitas politik yang muncul untuk memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam proses pembangunan politik yang didasarkan pada ideologi hasil konsensus nasional yakni pancasila.

Dengan demikian Politik Alokatif dapat juga berarti repolitik Islam kedalam kerangka pancasila. Politik Alokatif juga merupakan kecenderungan yang dilakukan oleh berbagai organisasi keagamaan. Hal ini terlihat dari berbagai aktifitas yang meskipun tidak merupakan partai politik sangat aktif, elitis dan politis.

Terlebih munculnya deideologisasi politik dan depolitisasi Islam yang dianut oleh pemerintah Orde baru saat itu, sehingga legitimasi agama hanya diperlukan untuk hal-hal mendasar, meskipun hal ini kadang dilakukan dengan cara-cara represif (tekanan dan kekerasan).

Oleh karenanya, diperlukan suatu dinamika, kreatifitas, dan akselerasi kerja dakwah dan politik untuk dapat menembus kebijakan politik rezim melalui Politik Alokatif. Apa yang dilontarkan Din Syamsudin tentang Politik Alokatif, saat ini perlu dipikirkan kembali oleh Muhammadiyah.

Politik Alokatif sebenarnya hendak memberikan pesan agar tidak hanya berkonsentrasi pada satu partai politik saja, apalagi hanya berlabel Islam. Hendaknya umat Islam tersebar dalam partai politik yang ada sehingga aspirasi umat Islam bisa tersalurkan.

Analisis wacana pemikiran Politik Alokatif Din Syamsuddin dalam Muhammadiyah yang berhubungan dengan politik di lakukan pada masa orde baru sampai saat ini. Namun dalam proses penelitian tersebut, terdapat faktor aktivitas komunikasi politik Muhammadiyah, misalnya disertasi Din Syamsuddin yang berjudul Religion And Politic In Islam In Case Of Muhammadiyah in Indonesia’s New Orders (1991).

Peran Politik Alokatif Muhammadiyah, yakni mengarahkan perubahan kepemimpinan dan pengaruh elit Muhammadiyah kedalam ranah kekuasaan. Dalam disertasi Din Syamsuddin merujuk perlunya penggunaan Politik Alokatif bagi Muhammadiyah. Politik Alokatif adalah bentuk pengambilalihan prinsip-prinsip Islam dalam proses politik sehingga terjadinya pembangunan karakter (baca; politik kebangsaan) berdasarkan pancasila.

Penelitian lain mengenai Muhammadiyah dan komunikasi politik, dilakukan oleh Suadi Syuadi 2009 : 160 dalam disertasinya yang di terbitkan dengan judul Nalar Politik NU dan Muhammadiyah; Over Crossing Java centris.

Penelitian mereka lebih pada peran Muhammadiyah dalam menhadapi demokratisasi di Indonesia pasca orde baru. Penelitian Suadi juga dilakukan untuk identifikasi loyalitas dan afiliasi politik Muhammadiyah baik yang berada di pulau Jawa maupun luar pulau Jawa.

Tentu penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui hubungan Politik Alokatif Mmuhammadiyah dengan berbagai kekuatan politik di Indonesia. Kesimpuan dari studi penelitian Suadi Syuadi adalah Muhammadiyah benar-benar memainkan peran Politik Alokatif-nya yang bersifat netral dan akomodatif.

Politik Alokatif melakukan transformasi gagasan mengenai hubungan Muhammadiyah dengan politik maupun partai politik apapun. Politik Alokatif memandang bahwa Muhammadiyah sejauh ini sebagai saluran politik bagi warganya Muhammadiyah dan dijadikan kekuatan politik demi mencapai tujuan.

Sedangkan akomodatif, bersifat luwes dengan menjadikan partai itu subkoordinasi bagi keberadaan Muhammadiyah untuk memerankan politik pencerahan demi terwujudnya cita-cita Muhammadiyah. Analisis Politik Alokatif ini bisa dikategorikan upaya Muhammadiyah dan kader-kadernya untuk melakukan ritualitas politik, entah masuk pada partai manapun lemaba politik.

Penelitian Suadi Syuadi secara akademis menjelaskan adanya hubungan Politik Alokatif Muhammadiyah yang selama ini di lakukan. Secara praktis juga, Muhammadiyah beserta kadernya telah melakukan aktivitas politik secara santun dan partisipatif, misalnya banyak kader Muhammadiyah terlibat menjadi caleg pada pemilu tahun 2004 sampai 2014..Justru penelitian Politik Alokatif ini dilakukan karena memang memiliki akar yang kuat sebagaimana praktik dari pemikiran Din Syamsuddin.

Penelitian lain, dilakukan Dr Alfian dalam disertasinya yang berjudul Islamics modernism in Indonesian Politics, the Muhammadiyah Movement During the Ducth Colonial period (1912 – 1942), menyimpulkan bahwa varian kelompok Muhammadiyah dalam prilaku politik cenderung berubah-ubah.

Dr Alfian menyebut ada tiga varian Politik Alokatif Muhammadiyah dalam praktiknya adalah sikap anti kemapanan, sikap nasionalis, dan sikap kreatif. Ciri-ciri tersebut terintegrasi adalah pertama, political allocative sebagai jalan politik proforsional melalui berbagai media atau mainstream media milik sala satu kelompok.

Kedua, Politik Alokatif sebagai institusi, yang tersebar dari berbagai kelompok Muhammadiyah bersifat terbuka. Ketiga, political allocative atas dasar idealism yang sangat kuat dan tanpa transaksional. Karena idealism merupakan metode pilihan bagi kader dan anggota atau warga serta simpatisan Muhammadiyah dalam membawa arah kekuatan politiknya.

BACA JUGA :  Menakar Keberanian KPK Menetapkan Partai Golkar Sebagai Pelaku Korupsi Koorporasi

Analisis Politik Alokatif yang dimaksudkan, adalah upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari subyek (penulis) yang mengemukakan suatu pernyataan. Pengungkapan dilakukan dengan menempatkan diri pada posisi penulis dengan mengikuti struktur makna dari penulis sehingga bentuk distribusi dan produksi ideologi yang disamarkan dalam Politik Alokatif dapat di ketahui.

Sementara Cook (1989) katakan “This letter kinds of language-language in use, for communications is called discourse”. Politik Alokatif merupakan pengunaan bahasa dalam komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.

Jadi, Politik Alokatif dilihat dari bentuk hubungan kekuasaan terutama dalam pembentukan subyek dan berbagai tindakan representasi. Dalam studi analisis Politik Alokatif (discourse analysis), pengungkapan seperti itu dimaksudkan dalam kategori analisis Politik Alokatif kritis.

Pemahaman dasar Politik Alokatif adalah semata-mata sebagai obyek studi Politik. Bahasa tentu digunakan untuk menganalisis teks. Bahasa tidak dipandang dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dalam analisis Politik Alokatif kritis selain pada teks juga pada konteks bahasa sebagai alat yang dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu termasuk praktik ideologi.

Analisis Politik Alokatif melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial menyebabkan hubungan dialektis antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, istitusi, dan struktur sosial.

Konsep ini di pertegas oleh Fairclough dan Wodak yang melihat praktik Politik Alokatif biasa jadi menampilkan efek ideologis artinya wacana dapat memproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki-laki dan wanita, kelompok mayoritas dan minoritas dimana perbedaan itu direpresentasikan dalam praktik sosial.

Lebih lanjut, Fairclough dan Wodak berpendapat bahwa analisis Politik Alokatif adalah bagaimana bahasa menyebabkan kelompok sosial yang ada bertarung dan mengajukan ideologinya masing-masing. Tindakan Politik Alokatif dapat dipahami sebagai tindakan (actions) yaitu mengasosiasikan Politik Alokatif sebagai bentuk interaksi.

Sesorang berbicara, menulis, menggunakan bahasa untuk berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Politik Alokatif dalam prinsip ini, dipandang sebagai sesuatu yang betujuan apakah untuk mendebat, mempengaruhi, membujuk, menyangga, bereaksi dan sebagainya. Selain itu Politik Alokatif dipahami sebagai sesuatu yang di ekspresikan secara sadar, terkontrol bukan sesuatu di luar kendali atau diekspresikan secara sadar.

Konteks analisis Politik Alokatif mempertimbangkan konteks dari Politik Alokatif seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi. Wacana dipandang diproduksi dan di mengerti dan di analisis dalam konteks tertentu.

Guy Cook menjelaskan bahwa analisis wacana memeriksa konteks dari komunikasi: siapa yang mengkomunikasikan dengan siapa dan mengapa; kahalayaknya, situasi apa, melalui medium apa, bagaimana, perbedaan tipe dan perkembangan komunikasi dan hubungan masing-masing pihak.

Tiga hal sentralnya adalah teks (semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak dilembar kertas, tetapi semua jenis ekspresi komunikasi). Konteks (memasukan semua jenis situasi dan hal yang berada dilar teks dan mempengaruhi pemakaian bahasa, situsai dimana teks itu diproduksi serta fungsi yang dimaksudkan).

Politik Alokatif dimaknai sebagai konteks dan teks secara bersama. Titik perhatianya adalah analisis wacana menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama dalam proses komunikasi..Historis, menempatkan Politik Alokatif dalam konteks sosial tertentu dan tidak dapat dimengerti tanpa menyertakan konteks.

Kekuasaan, analisis Politik Alokatif mempertimbangkan elemen kekuasaan. Politik Alokatif dalam bentuk teks, percakapan atau apa pun tidak di pandang sebagai sesuatu yang alamiah wajar dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Konsep kekuasaan yang dimaksudkan adalah salah satu kunci hubungan anatara Politik Alokatif dan masyarakat. Ideologi adalah salah satu konsep sentral dalam analisis Politik Alokatif karena setiap bentuk teks, percakapan dan sebaginya adalah paraktik ideologi atau pancaran ideologi tertentu.

Politik Alokatif bagi ideologi adalah medium kelompok dominan persuasif dan komunikasikan kepada khalayak kekuasaan yang mereka miliki sehingga absah dan benar. Semua karakteristik penting dari analsis Politik Alokatif tentunya membutuhkan pola pendekatan analisis. Politik Alokatif di kembangkan maupun mempengaruhi khalayak.

Dalam studinya Michael Foucault, bahwa manusia muncul karena susunan kata-kata dan benda yang diubah-ubah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, sepenggal masa yang disebut modernitas ini menghasilkan susunan yang memberi tempat istimewa pada diri manusia yang sadar diri.

Susunan yang dimaksudkan Foucault adalah keretakan hubungan subyek (kata-kata) dan obyek (benda-benda) yang karena suatu hal diutuhkan kembali. Suatu hal yang membuat keretakan hubungan subyek dan obyek di utuhkan kembali adalah kekuasaan dan kekuasaan itu diproduksi oleh Politik Alokatif.

BACA JUGA :  Lebih Memperkokoh Harkat Pekerja

Politik Alokatif secara sistematis dalam ide, opini, konsep dan pandangan hidup di bentuk dalam konteks tertentu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Salah satu konsep radikal Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Sebuah tesis keras yang disampaikanya bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan merupakan perpaduan yang tidak terpisahkan dari pengetahuan dan kekuasaan.

Dalam buku Dicipline and Punish (1976) memperlihatkan bagaimana jaman klasik dan moderen. Kelahiran penjara modern adalah penampilan kedaulatan negara memonopoli kekerasan atas warganya untuk melangengkan kekuasaan.

Pengetahuan adalah mesin kekuasaan dan di sebutnya sebagai “bio power” untuk membentuk individu-individu menjadi subyek-subyek yang menghasilkan pengetahuan untuk memantau diri atau disebut “teknik kehadiran” (techniques of self) dan manipulasi.

Melalui Politik Alokatif individu bukan hanya memantau dirinya tetapi juga dibentuk, dikontrol dan didisiplinkan. Studi analisis wacana seperti yang dijelaskan sebelumnya bukan sekedar mengenai pernyataan, tetapi juga struktur dan tata aturan Politik Alokatif.

Struktur analisis Politik Alokatif tentunya tidak terlepas dari keterkaitan atau hubungan antara Politik Alokatif dengan kenyataan. Kenyataan atau realitas dipahami sebagai seperangkat konstruksi sosial yang dibentuk melalui Politik Alokatif. Dalam critical discourse analysis, khususnya teori wacana Foucault hal ini disebut struktur diskursif.

Struktur diskursif merupakan pandangan kita tentang suatu obyek yang dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan. Batasan tersebut dicirikan oleh obyek, definisi dari prespektif yang paling dipercaya da dianggap benar. Presepsi kita terhadap suatu obyek dibentuk dan dibatasi oleh paraktik diskursif atau dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu yang ini benar dan yang lainya salah.

Konsekuensinya adalah bahwa pandangan tertentu membatasi pandangan khalayak dan mengarahkan pada jalan pikiran tertentu dan menghayati itu sebagai sesuatu yang benar. Ciri lain yang tidak kala penting dalam pembacaan teori wacana Foucault adalah ciri utama leadership ialah kemampuanya untuk menjadi satu himpunan yang berfungsi membentuk dan melestarikan hubungan-hubungan kekuasaan dalam suatu masyarakat.

Dalam suatu masyarakat biasanya terdapat berbagai macam Politik Alokatif yang berbeda satu sama lain, namun kekuasaan memilih dan mendukung Politik Alokatif tertentu sehingga wacana tersebut manjadi dominan, sedangkan Politik Alokatif lain “terpinggirkan” (marginalized) atau “terpendam” (submerged).

Ada dua konsekuensi dari wacana dominant: pertama, Politik Alokatif dominan memberikan arahan bagaimana subyek harus dibaca dan dipahami. Pandangan lebih luas menjadi terhalang karena yang diberikan adalah pilihan yang sudah paten dan siap pakai.

Kedua, struktur diskursif yang tercipta atas suatu obyek tidak berarti kebenaran. Batasan yang tercipta tersebut hanya membatasi pandangan kita, tetapi juga menyebabkan wacana lain menjadi tidak domianan dan terpinggirkan.

Proses terpingirkannya Politik Alokatif membawa implikasi: pada khalayak tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan informasi yang beragam dan berbagai sudut mengenai suatu peristiwa.

Ketiga, bisa jadi peminggiran wacana menunjukan praktik ideologi. Acap kali sesorang, kelompok, gagasan, tindakan, kegiatan terpinggirkan menjadi marjinal melalaui penciptaan wacana-wacana tertentu.

Teori Politik Alokatif, secara metodologi analisis banyak di adopsi oleh Sara Mills. Mills menjadikan teori Politik Alokatif sebagai ground teori untuk analisis situasi dan strategi politik kritis. Pendekatan Politik Alokatif yang mengguanakan teori Foucault sebgai grounded disebut sebagai Analsis Wacana Pendekatan Prancis (French Discourse Analysis).

Sara Mills merupakan salah satu penganut dari teori ini. Walaupun lebih dikenal sebagai seorang feminis, metode anlisisnya sangat cocok untuk menggambarkan realasi kekuasaan dan ideologi yang dibahas dalam berbagai penelitian.

Konsep dasar pemikiran Mills lebih melihat pada bagaimana aktor ditampilkan dalam teks. Posisi –posisi ini dalam arti siapa yang menjadi subyek penceritaan dan siapa yang menjadi obyek penceritaan akan manentukan bagaimana struktur teks dan bagaimana makna diperlakuakan dalam teks secara keseluruhan. Selain itu juga diperhatikan bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan dalam teks. Bagaimana pembaca mengidentifikasikan dirinya dalam penceritaan teks.

Ada dua konsep dasar yang di perhatikan sesuai dengan argumentasi Deese (1984: 72), bahwa wacana sebagai seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan suatu rasa kepaduan atau rasa kohesi bagi penyimak atau pembaca sehingga hubungan antara posisi subyek – obyek, menempatkan representasi sebagai bagian terpenting.

Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan, dan peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana dan mempengaruhi pemaknaan khalayak. Penekananya adalah poisisi dari aktor sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan dalam teks.

Posisi pembaca dalam teks, menurut Mills sangat penting dan diperhitungkan karena pemabaca bukan semata-mata pihak yang hanya menerima teks, tetapi juga ikut melaksanakan transaksi sebagaimana akan terlibat dalam teks.[]

Alumni Komunikasi Politik, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2014

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini