Azmi Syahputra:Foto Istimewa

Oleh: Azmi Syahputra

PERSOALAN pro-kontra Pilpres saat ini semakin komplek dan rumit. Menimbulkan potensi masalah baru, sekaligus hambatan dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Suhu tahun politik Pilpres ini, bukan hanya di Indonesia, di beberapa negara lain juga terjadi, yang konsekuensinya terkelompoknya yang pro dan kontra.

Semestinya, asas pemilu itu LUBER (Langsung Umum Bebas dan Rahasia). Konsep ini hilang serasa sudah basi melihat perkembangan trend masyarakat saat ini.

Akibat kemajuan teknologi baru ini, membuat masyarakat berprilaku psikis, narsis dengan terang terangan, menunjukkan identitas dirinya, kepemilikannya, hal-hal yang dilakukan atau kebiasaannya.

Pada waktu beberapa dekade lalu, instrumen dan ruang cyber beauty ini tidak ada. Sehingga, kalaupun ada pembicaraan pro-kontra dalam kompetisi pemilu, sangat terbatas tempatnya, pesertanya, serta diadakan dalam waktu yang tepat pula. Sangat berbanding sebaliknya dengan kondisi saat ini.

BACA JUGA :  Akui Punya Darah Bugis, Sandiaga Uno: Ewako

Melihat fenomena perilaku ini, kalau tidak ada pengendalian dari setiap manusia Indonesia, khususnya para pemegang smartphone dimana kegiatannya dan pendapatnya yang cendrung saling hujat, bantah membantah, berkait kompetisi Pilpres langsung dipaparkan. Melalui medsos, dapat memicu konflik dan merusak persatuan bangsa.

Sikap dan kalimat sebagian orang dalam bermedsos ini, sudah mengarah kepada kekerasan verbal. Ironisnya, hal-hal saling tebar kebencian, menjelekkan tersebut dari masing-masing pihak dibaca oleh anak anak.

Ini bahaya. Jadi kegaduhan diantara warga, bahkan keluarga yang pada selanjutnya akan menggangu persatuan bangsa.

Karenanya, setiap orang harus mengendalikan diri sendiri. Jaga jari jarinya, guna kan hati dan akal yang jernih.

Kalau pun ada masing-masing pihak saling mengidolakan, sampaikanlah hal-hal terbaik dari idolanya. Tidak perlu menjelekkan pihak lain. Karena orang kebanyakan akan sakit hati jika idolanya dijelekkan atau dijatuhkan.

BACA JUGA :  Tangkis Hoax, Relawan JMC Fokus Angkat Keberhasilan Pemerintahan Jokowi

Orang yang mengaku beradab atau bermartabat itu berdiri tanpa menjatuhkan orang lain.

Secara yuridis, jika membaca UUD 1945 28 J Ayat 1 dan ayat 2 diatur tentang kebebasan setiap orang, namun kebebasan tersebut dibatasi dengan harus menghormati atas hak dan kebebasan orang lain. Yang artinya, setiap orang punya hak kebebasan. Namun, wajib menghormati kebebasan hak yang dimiliki orang lain, dalam menjalankan tertib kehidupan berbangsa.

Jadi, apapun fenomenanya dan kondisi pro-kontra saat ini, kuncinya harus bersih hati (luhur), tetap menjaga persatuan dan harus semakin cinta bangsa Indonesia.[***]

*Penulis adalah Ketua Asosiasi Ilmuwan Praktisi Hukum Indonesia

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini