telusur.co.id— Sebanyak 910 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mendapatkan pelatihan tenaga terampil konstruksi dari Kementerian PUPR dan Kementerian Hukum dan HAM.

Hal ini setelah sukses melatih dan memberikan sertifikasi kepada 131 WBP di Lapas Nusa Kambangan dan Cipinang pada Juli lalu.

Kegiatan tersebut merupakan program Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Bagi Petugas dan WBP di Bidang Jasa Konstruksi Tahap I, yang digelar secara serentak di 10 Lapas seluruh Indonesia Diantaranya, Lapas Medan, Palembang, Tangerang, Bekasi, Surabaya, Banjar Baru, Makassar, Ambon, Karangasem dan Kupang

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari salah satu lingkup kerja sama tentang peningkatan kapasitas bagi petugas dan warga binaan pemasyarakatan di bidang jasa konstruksi.

Hal ini berdasarkan perjanjian kerja sama yang ditandatangani oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menkumham Yasonna Laoly pada 27 Juli 2018, di Nusakambangan.

“Kementerian PUPR tidak hanya membangun infrastruktur fisik saja, melainkan kerjasama yang telah dilakukan dengan Kementerian Kumham ini yang membekali WBP dengan keterampilan di bidang jasa konstruksi,” ujar Syarif dalam keterangan persnya, Senin (27/8/18).

BACA JUGA :  Bendungan Way Sekampung Jadikan Lampung Sebagai Lumbung Pangan Nasional

Menurut Syarif, dari 131 Warga Binaan yang telah dilatih pada program sebelumnya, PT Brantas Abipraya telah memanfaatkan 10 orang untuk bekerja membangun rumah susun di Lapas Nusa Kambangan.

Kemudian, 100 orang yang dilatih di Lapas Cipinang, telah menghasilkan lemari dan kursi yang dipergunakan di ruang kunjungan.

Syarif menerangkan, di 2018 ini, fokus pelatihan ditujukan kepada warga binaan  agar mempunyai kompetensi yang bisa dimanfaatkan saat kembali ke masyarakat. Warga binaan yang dapat mengikuti program adalah yang telah menjalani 2/3 dari masa tahanannya.

“Agar kelak saat bebas bisa berkarya di bidang jasa konstruksi dan mendapatkan hak remunerasi yang layak sesuai UU Jasa Konstruksi Nomor 2 tahun 2017, “ paparnya.

Hasil pelatihan di 10 lokasi, WBP akan mendapatkan sertifikasi tenaga terampil (tukang) batu, kayu, besi dan las, yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing WBP.

BACA JUGA :  PUPR Terus Rehabilitasi dan Rekonstruksi Daerah Dampak Bencana

Guna melatih kemampuannya, kata Syarif, setiap WBP diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya dalam pembangunan di sekitar Lapas. Termasuk, dilibatkan dalam pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial kerja sama Lapas dengan lingkungannya.

Adapun, sertifikat yang diberikan kepada mereka sebagai tenaga terampil, berlaku selama tiga tahun dan tercatat dalam sistem daya tenaga kerja. Dimana, sebuah sistem terintegrasi yang dikembangkan oleh PUPR guna mencatat data tenaga kerja.

“Setiap badan usaha dapat mengetahui tenaga kerja yang bisa digunakan di wilayah kerjanya,” ungkapnya.

Beberapa hari lalu, tutur Syarif, dirinya sempat mengunjungi Boyolali. Disana melihat juga pelatihan tenaga konstruksi yang melibatkan WBP, kini memasuki angkatan ke-9.

“Angkatan 2 dan angkatan 3 kini sudah bekerja di Arab Saudi. Itu jadi bukti tenaga kerja kita bisa dikirim ke luar negeri,” imbuh dia.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini