Ilustrasi/Net

telusur.co.id – Keadilan di Indonesia nampaknya mulai tidak sehat. Bagaimana tidak, seorang anak berusia 15 tahun di Jambi, yang menjadi korban pemerkosaan malah dipenjara.

Korban yang diperkosa oleh kakaknya itu panik setelah mengetahui dirinya hamil, kemudian korban menggugurkannya.

Kasus korban perkosaan yang ditangani Pengadilan Negeri (PN) Muara Bulian, Jambi itu pun membuat geger dunia.

Bagaimana tidak, portal berita online ternama Inggris, theguardian turut menyoroti kasus tersebut. Hal itu sebagaimana dimuat dalam artikel berjudul “Indonesia girl jailed for abortion after being raped by brother“.

Bukan hanya theguardian, Daily Mail juga menyoroti kasus itu dalam artikel “Indonesian girl, 15, who was raped by her brother is jailed for having an abortion“.

Media ternama dan paling berpengaruh di Amerika Serikat, Washington Post turut serta memantau kasus tersebut, “Indonesian teen raped by her brother jailed for abortion,” begitu judul berita di Washington Post.

Kasus tersebut berjalan sejak September 2017. Berikut perjalanan kasusnya;

BACA JUGA :  Bawa 104 Penumpang, Pesawat Tipe Boeing 737 Jatuh

September 2017
Si kakak memperkosa adiknya usai menonton film porno. Si kakak usianya 17 tahun, si adik usianya 15 tahun.

Februari 2018
Perut si anak membuncit. Panik. Korban perkosaan mengurut-urut perutnya hingga keguguran. Janin itu dibungkus taplak meja dan dibuang keesokan harinya. Janin itu ditemukan warga dan polisi melacak kasus itu.

19 Juli 2018
PN Muara Bulian menjatuhkan hukuman:
1. Kakak dihukum 2 tahun penjara dan 3 bulan pelatihan kerja.
2. Adik dihukum bulan 6 penjara dengan pelatihan kerja 3 bulan.
3. Ibu sebagai tersangka karena diduga ikut membantu anaknya aborsi.

BACA JUGA :  Pengedar Narkoba Harus Ditembak Mati

27 Juli 2018
Si anak mengajukan banding.

30 Juli 2018
LSM melaporkan majelis hakim ke Komisi Yudisial (KY).

Seperti dikutip dari theguardian, Rabu (1/8/18), sejumlah aktivis yang tergabung dalam Aliansi Peduli Perempuan dan Anak mengadukan majelis hakim Pengadilan Negeri Muara Bulian ke Komisi Yudisial (KY), yang diduga melakukan pelanggaran etik.

Majelis hakim itu diduga menyalahi aturan etik karena memvonis seorang anak perempuan korban perkosaan bersalah lantaran melakukan aborsi.

“Di Indonesia mereka (para hakim) hanya melihat aborsi sebagai hitam dan putih, bahwa kita benar-benar tidak dapat melakukan aborsi, apa pun yang terjadi,” kata Genoveva Alicia dari Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) yang menghadiri pertemuan tersebut.

“Dan mereka (para hakim) melihat ini sebagai kasus normal.” [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini