tulusur.co.id- Ekonom senior, Rizal Ramli mengatakan, salah satu penyebab rusaknya demokrasi di Indonesia ialah karena ada yang “berternak” buzzer untuk kepentingan politik. Akibatnya, masyarakat tidak mendapatkan informasi yang akurat terkait visi-misi dari para kontestan yang bertarung di pesta demokrasi.

“Buzzer ini adalah orang yang dibayar untuk bikin noise. Noise itu kebisingan,”. kata Rizal dalam beda buku ‘Peta Jalan NU Abad Kedua’, di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (13/8/18) malam.

Mantan menteri perekonomian era Gus Dur ini menegaskan, buzzer yang dibayar oleh para politisi itu bukannya menarik simpati publik, malah membuat mereka acuh. Karena, kegiatan buzzer di media sosial hanya menimbulkan kebisingan.

BACA JUGA :  MK Diminta Tolak Uji Materi UU Pemilu Kerena Langgar Konstitusi

Oleh sebab itu, Rizal mengimbau, terkhusus untuk para kontestan pasangan capres-cawapres untuk tidak menggunakan buzzer dalam berkampanye nanti. Sebab, para buzzer tidak mendidik masyarakat. Mereka lebih membuat sesama anak bangsa saling bermusuhan.

“Kepada semua para calon presiden janganlah pakek-pakek nyewa buzzer lagi. Karena itu akan membuat kualitas demokrasi semakin merosot semakin emosional, karena isinya cuman misu-misu, maki-maki lawannya, puji-puji diri sendiri,” ungkap dia.[HAM]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini