telusur.co.id- Ketua Setara Institute, Hendardi, menilai, pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo di MPR mengandung sejumlah pesan kebangsaan kuat yang ditujukan kepada elit politik, elit agama dan rakyat untuk mengutamakan pentingnya penyelenggaraan kontestasi politik berjalan aman dan damai.

“Jokowi merujuk keberhasilan penyelenggaraan pilkada serentak 2017 dan 2018 yang tidak mengoyak kebhinnekaan, sebagai contoh bahwa kondisi aman dan damai itu karena kemajemukan kita diikat oleh satu ideologi bangsa, yakni Pancasila,” kata Hendardi dalam keterangannya, Kamis (16/8/180.

Namun demikian, menurut Hendardi, pesan-pesan elektoral tetap terselip dalam pidato Jokowi. Intinya, Ia ingin merangkul umat Islam, memajukan ekonomi Islam, dan mendorong peran ulama dalam mengatasi pandangan-pandangan keagamaan radikal.

BACA JUGA :  Sesjen MPR: Perlu Sinergi Antar Protokoler Lembaga Negara dan Kementerian

“Jokowi juga menyelipkan pesan elektoral penting, yakni mempercepat penyelesaian pelanggaran kasus-kasus HAM masa lalu, suatu agenda yang selama 4 tahun hanya tertulis dalam Nawacita tetapi tidak ada tindakan nyata yang terukur,” terang Hendardi.

Nuansa merangkul umat yang ditunjukkan Jokowi, kata Hendardi, bisa saja dipandang sebagai hal biasa. Karena, kapasitasnya sebagai Kepala Negara bukan kontestan Pilplres. Apalagi, pernyataan tersebut merujuk pada keberhasilan pilkada serentak 2017 dan 2018 yang aman dan damai.

“Secara implisit Jokowi ingin menegaskan bahwa politisasi identitas yang subur di tengah lingkungan intoleran dan radikal bisa dikurangi pada Pilkada 2017 dan 2018 dan berharap tidak juga akan terjadi pada Pemilu 2019,” ungkapnya.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini