foto|bs

telusur.co.id – Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif mengatakan Amerika Serikat kecanduan penerapan sanksi terhadap Iran, sehingga┬á tidak heran jika kebijakan Presiden Trump yang terus mengeluarkan sanksi baru.

“Saya percaya ada penyakit di Amerika Serikat dan itu adalah kecanduan terhadap sanksi. Bahkan selama pemerintahan Obama Amerika Serikat lebih menekankan pada menjaga sanksi yang tidak dicabut daripada menerapkan kewajibannya atas sanksi yang dicabutnya,” katanya Zarif seperti dilansir CNN.

Zarif mempertahankan keyakinan yang jelas selama wawancara selama satu jam di kementerian luar negeri bahwa kesepakatan nuklir bisa dihidupkan kembali terlepas dari pengingkaran administrasi Trump terhadapnya.

BACA JUGA :  Perang Dagang AS-China dan Eropa, Amerika Gali Kuburannya Sendiri

Pada bulan Mei, Trump mengundurkan diri dari kesepakatan, yang dikenal sebagai JCPOA dan dimaksudkan untuk membatasi ambisi nuklir Iran dalam pertukaran untuk bantuan sanksi, menyebutnya sebagai “satu sisi kesepakatan mengerikan yang seharusnya tidak pernah, pernah dibuat.” Gelombang pertama sanksi yang harus “pulih kembali” di bawah langkah Trump memukul impor suku cadang mobil dan logam mulia pada 6 Agustus.

Zarif mengungkapkan kekecewaannya bahwa Amerika Serikat belum belajar bahwa sanksi tidak efektif dalam mengubah iklim politik di Iran.

“Kami merasa bahwa Amerika Serikat telah belajar bahwa setidaknya sejauh menyangkut Iran, sanksi memang menghasilkan kesulitan ekonomi tetapi tidak menghasilkan hasil politik yang mereka ingin mereka hasilkan, dan saya berpikir bahwa Amerika telah belajar pelajaran itu. Sayangnya Saya salah, “kata Zarif.

BACA JUGA :  Israel Buat Sekolah untuk Latih Siswanya Memata-matai Iran

Sebelumnya pada hari itu, dia men-tweet kritik Departemen Luar Negeri AS pekan lalu dengan membentuk “Kelompok Aksi Iran” untuk mengkoordinasikan AS dan tekanan sekutunya terhadap Iran. Dia menulis: “Sekarang kelompok aksi bermimpi melakukan hal yang sama melalui kesalahan informasi dan demagoguery – tidak pernah lagi.” (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini