Kepada YTH.
Sdr. Natalius Pigai
Di
Tempat

Pertama sekali saya sampaikan hormat dan simpati saya atas komitmen dan integritas saudara di dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

Selanjutnya saya nyatakan bahwa, persoalan kasus Meliana yang saudara kemukakan di dalam tulisan saudara tidaklah sesederhana itu.

Seolah-olah Meliana dihukum bersalah dikarenakan dia etnis cina dan minoritas, padahal hanya disebabkan minta suara mike dikecilkan. Padahal selama puluhan tahun volume suara mike di masjid itu memang seperti itu, tidak pernah dibesar-kecilkan seperti diterangkan saksi Kasidi menjawab pertanyaan Hakim.

Ada kesan, kali ini saudara menerima informasi hanya sepihak sehingga kesimpulan yang saudara buat tidak tepat dan membentuk opini negatif terhadap umat Islam. Seolah-olah Umat Islam yang mayoritas di negeri ini berlaku zalim terhadap minoritas.

Saya yang mengikuti hampir setiap persidangan Meliana melihat dan mendengar langsung keterangan para saksi yang intinya dapat saudara baca pada pernyataan yang mereka buat di atas meterai, jauh sebelum perkara tersebut disidangkan.

Arogansi dan bahasa yang digunakan Meliana ketika para saksi datang ke rumahnya menimbulkan kemarahan, sehingga mereka yang semula berniat baik dan hendak menyelesaikan persoalan secera kekeluargaan akhirnya kembali ke Mesjid dengan membawa rasa tersinggung dan terhina.

Satu hal yang perlu saudara ketahui ialah, yang meminta maaf hanyalah suami Meliana saja. Sedangkan dia sendiri tidak ada minta maaf. Begitu diterangkan para saksi di depan Majelis Hakim pengadilan Negeri Medan.

Jadi dengan penjelasan ini saya nyatakan bahwa Meliana dihukum bukanlah disebabkan dia seorang Cina dan minoritas, akan tetapi adalah oleh karena arogansi dan bahasanya yang menyakitkan orang Islam yang mendengarnya.

Kalau soal etnis Cina dan minoritas, banyak orang Cina dan minoritas agama lain tinggal di dekat Masjid itu namun mereka tidak merasa terganggu mendengar suara azan maupun lantunan ayat suci Al Quran dari Masjid. Padahal mereka tinggal di sana telah puluhan atau belasan tahun lamanya. Sementara si Meliana baru pindah ke depan Masjid yang diperotesnya, itu baru sekitar 4-5 tahun lalu.

Kesimpulannya, tidak benar minoritas di Tanjung Balai (di Indonesia) berada dalam tekanan mayoritas (Umat Islam). Dalam banyak hal yang terjadi sebenarnya adalah Tirani minoritas!!

Persoalan umat Islam yang menghancurkan Vihara, Klenteng, dan lain-lain lebih ringan menurut saya adalah;
– Perbuatan itu menyalahi ajaran agama Islam, maupun hukum positif yang berlaku
– Hakim menghukum mereka yang melakukan itu dengan hukuman lebih ringan dari hukuman terhadap Meliana berkemungkinan dikarenakan Hakim menilai mereka itu adalah akibat (korban) provokasi Meliana (penyebab).

Demikianlah, semoga ke depan saudara lebih jeli dan hati-hati.

Wassalam,

Sudirman Timsar Zubil
(Mantan Tahanan Politik Hukuman Mati era Soeharto)

Surat terbuka sebagaimana beredar di grup-grup messenger WhatsApp, Jumat (24/8/18).

BACA JUGA :  Wow....DPC PPP Sumut Tolak Dukung Djarot-Sihar

Berita Terkait:
Meliana Korban Kebencian Terhadap Akrobat Politik Ahok Dan Jokowi

 

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini