Mantan ketua MK dan juga mantan Menteri Kehakiman-HAM di era Gus Dur, Mahfud MD.Foto:Istimewa

telusur.co.id – Menit-menit terakhir sebelum dideklarasikan, petahana Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Padahal sebelumnya, nama Mahfud MD sudah dikantongi Jokowi dan digadang-gadang menjadi calon pendampingnya.

Akan tetapi, nama Mahfud MD diganti jelang deklarasi. Bahkan, pidato deklarasi baru diubah jam lima sore, hanya beberapa saat menjelang pengumuman.

Sumber di lingkaran dekat Istana menyebutkan, semula Mahfud sudah jauh-jauh hari digadang-gadang untuk mendampingi Jokowi. Pilihan tersebut juga mendapat lampu hijau dari elit PDI Perjuangan.

Namun, penunjukkan Mahfud justru ditolak oleh PKB. Beberapa elit di partai itu menyebut Mahfud tak pernah menjadi warga nahdliyin. Dan pada akhirnya, penolakan eks Ketua MK itu, merembet ke NU.

Bukan hanya PKB dan NU, belakangan PPP juga menyuarakan penolakan serupa. Tentu saja, penolakan itu membuat petinggi PDI Perjuangan geram dan sempat mempersilakan kedua partai jika memang berniat keluar dari koalisi, dan membentuk poros ketiga.

Disaat bersamaan, Jokowi tetap ngotot mempertahankan Mahfud sebagai bakal calon wapresnya.

Jokowi kemudian baru memikirkan dengan serius ketika elit Partai Golkar turut serta menyuarakan penolakan serupa. Penolakan kabarnya diputuskan setelah elit partai berlambang beringin itu meminta pertimbangan kepada Jusuf Kalla, yang saat ini menjabat sebagai Wapres Jokowi.

BACA JUGA :  Besok, Sandiaga Berencana Satroni KPK

Lantaran dikeroyok PKB, PPP dan Golkar, Jokowi bersama PDIP harus berkompromi. Di sisi lain, muncul nama Ketua MUI, Ma’ruf Amin sebagai calon alternatif pengganti Mahfud.

Keadaan ini menjelaskan mengapa Jokowi menemui JK pada Kamis pagi, atau sehari sebelum mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum, sebagai peserta Pilpres 2019.

Sementara itu, Mahfud sendiri mengakui jika dirinya diminta untuk secara resmi jadi cawapres pendamping Jokowi. Ia bahkan diminta stand by dan mengirim CV sekaligus mengukur kemeja putih.

Selain menyatakan kesediaan, Mahfud juga menyebut tiga alasan mengapa bersedia mendampingi Jokowi.

“Pertama tentu panggilan sejarah ya, saya kan aktivis juga, pengin juga ada di medan perjuangan. Kedua, tentu kepercayaan Pak Jokowi kepada saya, kalau memilih saya tentu kan percaya kepada saya. Ketiga, elektabilitas Pak Jokowi untuk menang itu sangat bisa,” kata Mahfud.

Begitu juga ketika sembilang ketua umum partai koalisi menggelar rapat di Restoran Plataran Menteng untuk mengumumkan cawapres yang bakal diusung, Mahfud juga melenggang ke daerah Menteng menungggu di suatu tempat.

BACA JUGA :  Istana Bela Prabowo, BPN Sebut Pernyataan Jokowi Salah

Namun, tiba-tiba Sekjen DPP PKB, Abdul Kadir Karding memposting tulisan dan gambar yang menyebut Jokowi memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin sebagai Cawapres.

Setelah postingan Karding, Jokowi dan semua Ketum Parpol koalisi memberi keterangan pers yang mengumumkan niat Jokowi untuk maju sebagai calon presiden.

Dia juga mengumumkan Ma’ruf Amin sebagai cawapres dan Mahfud terpental dari pilihan Jokowi.

Terkait itu, Mahfud menyebut keputusan Jokowi merupakan realitas politik yang tak terhindarkan. Jokowi, kata Mahfud, sudah menemuinya empat mata dan kepadanya Mahfud mengatakan agar tak perlu merasa bersalah atas putusan itu.

Bagi Mahfud keberlangsungan NKRI jauh lebih penting daripada namanya atau Ma’ruf Amin. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini