Mata Uang Republik Indonesia, Rupiah/telusur

telusur.co.id – Pemerintah Indonesia melalui Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ada banyak faktor yang bisa membuat rupiah anjlok. Namun, terkait anjloknya rupiah yang sampai Rp 14.600, dikarenakan krisis yang sedang terjadi di Turki.

Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp 14.439 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Senin (13/8). Posisi ini memguat 39 poin atau 0,26 persen dari penutupan akhir pekan kemarin, Jumat (10/8) di Rp 14.478 per dolar AS. Namun, kurang dari sejam dibuka, rupiah langsung anjlok ke Rp 14.602 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.

“Kita setiap hari ini selalu ada berbagai faktor bisa saling mempengaruhi. Jadi pada minggu terakhir ini faktor yang berasal dari Turki,” kata Sri Mulyani saat ditemui di JS Luwansa, Jakarta, Senin (13/8/18).

BACA JUGA :  Terjebak Proyek Infrastruktur, Sri Mulyani : Pemerintah Jokowi Bergantung Melalui Hutang

Terkait penyataan Sri Mulyani, Ustadz Tengku Zulkarnain mengaku heran, sebab mata uang Turki, lira kini sudah mulai ‘sehat’, namun mengapa rupiah tetap ‘sakit’.

Kemarin Jeng Sri Mengatakan Rupiah Anjlok karena Pengaruh Lira Turki yg Anjlok Berat. Sekarang Lira Turki SEHAT, Lha Kenapa Rupiahnya Masih SAKIT ya Jeng…? Monggo Diterangkan…. Mohon Yg Bukan Jeng Sri Jangan Sok Tahu ya. Apalagi Ngamuk2… OK Oce…?,” tulis ustadz Tengku Zulkarnain di akun Twitter miliknya, yang terpantau telusur.co.id, Sabtu (18/8/18).

Sebelumnya, mata uang Turki, lira mengalami penguatan setelah menteri Keuangan, Berat Albayrak mengatakan, pemerintah akan mengurangi belanja publik untuk mencegah negara itu mengalami kesulitan likuiditas untuk pembayaran utang.

Ia mengatakan hal itu dihadapan sekitar 6000 investor lewat conference call untuk menenangkan isu di pasar bahwa negara itu bakal meminjam dolar ke Dana Moneter Internasional atau IMF.

BACA JUGA :  Terus Menguatnya Dolar AS Harus Diwaspadai

“Kami sedang menghadapi kondisi perekonomian yang kurang menguntungkan tapi kami akan bisa mengatasinya,” kata Albayrak dalam penjelasannya kepada investor seperti dilansir Guardian.

“Tidak ada rencana untuk meminjam ke IMF. Kami fokus menarik investasi langsung,” kata dia.

Nilai tukar lira menguat sekitar 4 persen pasca pernyataan Albayrak. Selain itu, dua pernyataan dukungan dari Presiden Prancis dan Kanselir Jerman ikut mendorong penguatan lira. [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini