telusur.co.id- Yayasan Talibuana Nusantara meluncurkan buku berjudul “Peta Jalan NU Abad Kedua”. Peluncuran buku digelar di gedung PBNU, Jakarta, Senin (13/8/18) malam.

Dalam sambutannya, koordinator tim penulis, Ahmad Bagja mengungkapkan, lahirnya buku tersebut berdasarkan hasil dari rentetan kegiatan diskusi yang dilaksanakan lebih dari empat tahun.

“Buku ini didasarkan pada banyak cerita keluhan terhadap pesimisme masa depan NU,” kata Bagja.

Menurut Bagja, berbagai cara bisa ditempuh untuk menyatakan perhatian dan kepedulian kepada Nahdlatul Ulama (NU). Dalam buku ini, lanjut Bagja, ada beberapa pertanyaan serta reintropeksi diri untuk NU yang sudah didiskusikan. Hasilnya, dimana akhir-akhir ini rasa untuk ber-NU mulai menurun.

BACA JUGA :  NU Dan Muhammadiyah Sepakat Jaga Persatuan Bangsa

“Semangat berkurban untuk NU kok, makin lemah rasa-rasanya. Perbedaan muncul makin hari makin terasa pada diintegrasi NU. Karena sulit sekali untuk didamaikan,” jelas Bagja.

Tak hanya itu, sambung Bagja, tingkat ketaatan warga NU kepada kebijakan organsiasi semakin melemah. Lalu, kepemimpinan ulama juga mulai terasa pudar.

Dalam buku ini juga mempertanyakan posisi politik NU, serta kontribusi organsiasi keagamaan terbesar di dunia ini terhadap umatnya.

“Kontribusi NU pada umat itu tidak sepadan dengan nama besar NU, atau belum sepadan. Kemudian kaderisasi terasa kurang. Tuntutan NU pada Sumber Daya Manusia yang berkualitas belum dapat dipenuhi. Dan, kemandirian NU masih harus terus diperjuangkan,” ungkap dia.

BACA JUGA :  Kehadiran Gus Yahya Di Israel Bukan Mewakili PBNU

Buku ini, tutur Bagja, merupakan himpunan diskusi dilakukan oleh aktivis, pemerhati dan pencinta organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari tersebut.

“Semoga ini menjadi buku pertama yang akan diikuti oleh buku-buku berikutnya sehingga dapat memberi manfaat maksimal dalam mengisi Abad Kedua Nahdlatul Ulama,” tutup dia.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini