telusur.co.id – Meskipun ribuan warga Venezuela melakukan eksodus ke negara tetangga akibat krisis keuangan tak membuat pemerintah galau dan panik. Pemerintah Venezuela malah cuek bebek dengan aksi yang dilakukan warganya.

Sikap cuek itu ditunjukan oleh Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez. Delcy mengatakan aliran migrasi dari negara itu “normal” saja. Jsutru dia melihat bahwa situasi yang terjadi karena adanya intervensi asing.

“Ada niat untuk mengubah aliran migrasi normal menjadi krisis kemanusiaan untuk membenarkan intervensi internasional di Venezuela,” kata Wakil Presiden Rodriguez pada konferensi pers.

Diapun menegaskan pemerintah Venevuela tidak akan membiarkan warganya ke luar negeri hanya karena mengalami krisis. “Kami tidak akan mengizinkannya.”

Lebih lanjut, Delcy mengkritik lembaga asing karena menggunakan emigrasi Venezuela yang disediakan oleh negara lain.

Sebelumnya, Presiden Nicolas Maduro mengatakan dalam siaran televisi pada hari Senin bahwa protes jalanan oposisi dan sanksi keuangan AS telah menyebabkan beberapa orang Venezuela “mencoba keberuntungan mereka” di negara lain tetapi banyak yang mempertimbangkan kembali keputusan itu.

“Lebih dari 90 persen menyesalinya, dari kelompok ini yang tidak lebih dari 600.000 orang Venezuela yang telah meninggalkan negara itu dalam dua tahun terakhir, menurut dikonfirmasi, angka serius bersertifikasi,” katanya.

Gambar-gambar orang Venezuela meninggalkan negara itu dengan berjalan kaki telah meningkatkan alarm melalui wilayah tersebut ketika negara-negara seperti Ekuador, Peru, dan Chili berusaha untuk mempersiapkan arus pendatang yang terus bertambah.

“Situasinya dramatis,” kata Ronal Rodriguez, seorang profesor dan peneliti di Observatorium Venezuela, sebuah lembaga pemikir di University of Rosario di Kolombia, kepada Al Jazeera.

“Ada kasus-kasus hipotermia, orang-orang yang datang dari pantai, dan terkena suhu lain yang tidak biasa, ini bukan perjalanan yang direncanakan.”

“Beberapa orang menerima bantuan, tetapi yang lain dilecehkan. Banyak yang mati di jalan, dan anggota keluarga terpaksa meninggalkan mereka untuk melanjutkan perjalanan. Perubahan internal yang terjadi di negara itu membuat segalanya semakin buruk,” Rodriguez menjelaskan. (ham)

Bagikan Ini :