Sayuti Asyathri/ Foto: Istimewa

Oleh Sayuti Asyathri

Sudah terlalu banyak bukti bahwa manusia sangat lemah di dalam sistem kekuasaan dan pemerintahanNya. Dia lah asal dan tempat kembali semuanya, pusat keagungan dan kasih sayang, seluruh semesta bertasbih padaNya.

Kita diminta banyak berdoa untuk mengais kasih sayang dan keridhoanNya. Di sini, kini, rakyat panik karena ambles nilai rupiah di batas psikologis keamanan dan daya tahan kita.

Hanya persatuan dan solidaritas yang bisa membuat kita kuat untuk bertahan dan atasi masalah. Bukan dengan emosi dan dendam mencaci mereka yang memberi peringatan dengan ilmu dan kearifan. Ambillah pelajaran dari semua masukan dan pembicaraan yang telah dibangun susah payah dengan ilmu dan penelitian. Dan jangan mudah kaitkan dengan kekerasan agama yang terjadi di bagian dunia lain. Seolah ingin mengundang teror dan bencana konflik agama di negera negara lain ke negeri ini hanya karena alasan politik dan kekuasaan.

Sejatinya rakyat hanya ingin agar mereka menjadi tuan di negeri sendiri, lapangan kerja terbentang luas, innovasi rakyat berkembang dengan dukungan tulus dari negara tanpa diskriminasi, terjadi keleluasaan gerak dalam perdagangan dan usaha serta hukum ditegakkan dengan adil bukan hanya terhadap yang kecil dan lemah.

Dan dalam harapan dan keinginan rakyat itu harus hadir pemimpin mereka yang bertanggung jawab untuk itu. Mereka telah memilihnya karena janji untuk mengemban tanggung jawab itu dan janji untuk mengoreksi kesalahan yang sebelum sebelumnya.

Di mana mana belahan dunia rakyat selalu menggeliat untuk memperjuangkan kehormatan, kemerdekaan dan kedaulatan mereka, karena itu adalah enerji fitrah dari Tuhan YME.

Kini, mereka yang mencaci orang orang yang telah memberi peringatan tentang bencana yang akan datang itu berada di mana ketika keadaan rakyat semakin menuju tubir batas daya tahan ? Apakah mereka tampil untuk atasi masalah ? Tidak tentu saja, mereka hanya meninggalkan kotoran cacian dan hujatan kemudian menghilang dari tanggung jawab.

Sebagian sangat kecil dari mereka hanya sesekali muncul dengan bayangan mimpi bahwa Indonesia akan berjaya ditahun 2050, 2070, 3050 dan ribuan tahun kemudian. Tentu saja bukan tidak mungkin. Tetapi tanpa kepemimpinan yang kuat dan visioner yang berhasil membangun kebersamaan dan persatuan di atas hamparan ideologi maka Itu hanya mimpi berdasarkan tipuan proyeksi linier numerikal belaka. Suatu ilmu yang dulu pernah menipu beberapa teknokrat congkak karena menelan ilmu ampas dan beracun dari Barat yang telah menihilkan dinamika sosial dan budaya sebagai asset berkebangsaan dan menentukan jatuh bangunnya perekonomian dan peradaban. Pengaruh pemikiran teknokrat numerikal itulah yang telah menjerumuskan Indonesia dalam krisis kita di masa lalu dan kita rasakan dampaknya hingga hari ini. Suatu ilmu yang kini dianggap paling primitif di masa ketika manusia sudah pada tahapan menggali ilmu pengetahuan di lorong lorong misteri subatomik yang memiliki denyut kehidupan sendiri dengan agenda dan relasi uniknya dalam sistem semesta yang agung.

Kita semua tidak tahu pasti apa yang akan terjadi dengan dunia ini nantinya, apalagi di tahun 2050 dan tahun 3000an ketika soal soal saling menghinakan saat ini di waktu tahun tahun itu hanyalah onggokan puing dan fosil yang menggambarkan kenaifan.

Kini, kita hanya diminta berusaha yang terbaik dan memikul tanggung jawab kebangsaan kita sebaik baiknya,
Karena akan ada pertanggungjawaban asasi di hadapan MahkamahNya.

Tanggung jawab itu diemban dengan tetap saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, saling menasehati dan memberi peringatan tentang bahaya di depan berdasarkan ilmu tentang keadaan kita sekarang. Karena itu lebih bermanfaat ketimbang membayangkan pesta pora linier numerikal puluhan tahun akan datang padahal itu hanya kepongahan dan penghinaan pada akal sehat.(****).

Sayuti Asyathri, Pimpinan Komisi II DPRI RI (2004-2009), Ketua Panja & Tim Perumus UU Pelayanan Publik (2009); UU Administrasi Kependudukan (2006), dan UU Arsip Nasional (2009).

Bagikan Ini :