Tim Dokter Keliling (Dokling) Prabowo Menyapa di Lombok Tengah

telusur.co.id – Para pengungsi korban bencana alam di Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di Lombok Tengah saat ini mulai terserang penyakit. Mayoritas anak-anak dan balita serta orang dewasa menderia ISPA (Infeksi saluran pernapasan atas), gatal-gatal dan Gastitris (penyakit yang disebabkan infeksi basil pada selaput lendir di dinding lambung).

Karena itu, Satgas Dokter Keliling (Dokling) Prabowo Menyapa, yang merupakan Satuan tugas bidang kesehatan dibawah perintah langsung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto terjun langsung ke titik lokasi bencana alam dengan memberikan bantuan kesehatan kepada para korban yang belum terjamah bantuan dari pemerintah, salah satunya yang berada di Lombok Tengah.

Titik lokasinya sendiri berada di dua dusun di wilayah Lombok Tengah yakni Dusun Peken Baru dan Dusun Ranjok Kecamatan Batukliang Utara. Satgas Dokling Prabowo menyapa sendiri sudah melaksanakan tugasnya di lokasi tersebut sejak Selasa 21 Agustus 2018 lalu.

“Kegiatan dokling ini merupakan bagian dari program kegiatan Prabowo menyapa. Dan Pak Prabowo telah memerintahkan kita semua kader dan simpatisan Partai Gerindra untuk turun langsung membantu korban bencana alam di Lombok. Dengan adanya kegiatan ini warga sangat bersyukur dan berterima kasih karena banyak warga yang sedang sakit. Jumlah pasien yang kita tangani di dua dusun tersebut sebanyak 176 orang,” kata pimpinan Tim Satgas Dokling Prabowo Menyapa, Muhammad Bayu Isa, dalam Keterangannya di Lombok.

Bayu menjelaskan, bahwa sebagian besar bangunan rumah warga di Wilayah Lombok Tengah ini rata-rata retak dan sebanyak tiga rumah hancur akibat gempa yang menerpa wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Saat ini warga masih mengungsi dan enggan kembali ke rumah akibat trauma yang dialaminya saat gempa menerpa.

“Warga mengungsi di sekitar rumah mereka dengan mendirikan tenda masing-masing karena tidak ada lapangan untuk dijadikan sebagai posko pengungsian,” tutur Bayu.

Ia juga menjelaskan, para pengungsi di wilayah tersebut sangat membutuhkan tenda, terpal, dan selimut karena cuaca di malam hari yang sangat dingin. Apalagi saat pihaknya hadir, bantuan dari pemerintah pada saat itu belum masuk ke wilayah tersebut, hanya ada bantuan mie instan saja dari beberapa pihak swasta. Dan jumlahnya pun tidak mencukupi untuk kebutuhan para korban.

“Bantuan belum ada baik dari pemerintah maupun swasta pada waktu itu, adapun sebelumnya ada tapi hanya mie saja dan sedikit tidak cukup untuk warga pengungsi,” imbuhnya.

Sebagian besar mata pencaharian warga yang tinggal di wilayah ini hampir semua bekerja sebagai penggali tambang pasir. Namun sejak gempa melanda mereka tidak lagi bekerja karena takut akan longsor dari efek gempa tersebut. Jumlah penduduk di Dusun Peken Baru sendiri berjumlah 152 KK dengan total 216 Jiwa, sedangkan di Dusun Ranjok berjumlah 100 KK dengan total 198 Jiwa. “Di dua dusun ini Tidak ada korban yang meninggal dunia maupun luka-luka,” tutup Bayu. (ham)

Bagikan Ini :