Maiyasyak Johan/Foto:istimewa

Oleh Maiyasyak Johan

Dalam riwayat yang tercatat diberbagai kitab, di lembah tandus yang kini dikenal sebagai Makkah, ketika itu hanya ada dua manusia lemah sebagai pemukim pertama, yaitu seorang wanita bernama “Siti Hajar” dan satu lagi seorang bayi laki-laki bernama “Ismail”.

Sebagai seorang wanita yang hanya ditemani seorang bayi lelaki, adalah mustahil dia bisa menjaga kepentingannya dari berbagai kemungkinan. Satu-satunya yang dapat melindunginya adalah jika ada “adab” yang dihormati dan pegang oleh manusia ketika itu.

Kedua hamba Allah yang lemah itu menurut “Adab Dunia” yang di wariskan sejak dunia ini ada hingga kini, disebut sebagai “pemilik sah” dari tempat itu – termasuk pemilik sumber air yang atas kehendak Allah Azza Wa Jalla ditemukan oleh mereka, yaitu sumber air zam-zam.

Al-kisah, suatu hari ada rombongan kabilah yang sedang dalam perjalanan membutuhkan air. Kabilah Pengelana gurun itu melihat dari kejauhan ada sejumlah burung yang terbang berputar-putar di angkasa. Berdasarkan pengalaman para pengelana gurun itu, dipastikan bahwa disekitar tempat burung itu pasti ada sumber air. Lalu rombongan kabilah itu pun bergegas menuju ke tempat itu.

Sesampainya di tempat itu, mereka terkejut melihat ada seorang wanita dan seorang anak disana.

Sesuai dengan “Adab” yang ada, Kepala rombongan kabilah itu, setelah mengucapkan “salam” bertanya kepada Siti Hajar, “Apakah mereka diperkenankan untuk mendirikan tenda, istirahat dan mengambil air guna memenuhi kebutuhan mereka?”

Siti Hajar mengijinkannya – dan begitu terus setiap kali anggota kabilah itu membutuhkan air.

Para Kabilah yang belakangan belakangan disebut “Jumhur” (Pendatang) itu jika mengandalkan kekuatan tentu bisa saja mengambil dan menguasai sumur itu. sebab belum ada aparat dan tak kekuatan tandingan yang bisa melarang mereka ketika itu. Namun itu tidak terjadi, Pertanyaanya adalah: Mengapa? Jawabnya: Karena adab melarang semua mereka melakukan itu.

Kekuatan dan Kekuasaan memang bukan untuk menindas, melainkan untuk menjaganya.

Ketika itu, Kedamaian dan hak setiap orang terpelihara dari perampasan dan penindasan – bukan karena ada kekuatan yang menjaganya, melainkan karena adab yang dipelihara dan ditegakkan bersama-sama.

Rakyat (penduduk – asli), bangsa dan negara ini, terutama para pendatang – agaknya bisa belajar dari adab yang ditegakkan bersama-sama dalam kisah Siti Hajar dan Kabilah Jumhur (Pendatang) tersebut di atas dalam soal Azan.

Azan bagi mayoritas penduduk asli pemilik negeri ini adalah bagian dari yang tak mungkin bisa dipisahkan dari kehidupan mereka, kecuali oleh kematian. Karena itu, mengatur dan mencampuri soal “azan” berkumandang di atas tanah pemilik asli negeri ini sama saja bagaikan mengusir mereka dari negerinya – itu tentu tak ber-adab namanya. Bukankah sesuai dengan adab dunia lebih tepat dan patut para pendatang itu menyesuaikan diri? bukan sebaliknya.

Sebab, bukan untuk menghapus dan mengkritisi suara azan dulu negeri ini disepakati diperjuangkan, dipersatukan dan dimerdekakan, tapi untuk memelihara dan menjaganya.(****).

maiyasyak johan
advocate

Bagikan Ini :