Judul Buku : Agama Jawa. Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa (Religion of Java) Penulis : Clifford Geertz Penerbit : Komunitas Bambu

Tulisan ini merupakan hasil coretan penulis ketika membaca buku Agama Jawa karangan Clifford Geertz lima tahun yang lalu. Kertas yang sudah lusuh itu akan memiliki arti jika diketik dan dibaca oleh orang-orang yang mau menghayati. Hal ini dirasa penting karena lunturnya nilai-nilai slametan di masyarakat saat ini.

Slametan merupakan tradisi yang sangat populer di Indonesia, khususnya di Jawa. Ketenarannya tidak kalah dengan challenge ‘Kiki’ yang viral di IG itu. Slametan sampai juga ke mancanegara berkat etnografi seorang antropolog lulusan Harvard University bernama Clifford Geertz tahun 1952-1954. Jika tagar #InMyFeelingsChallange hanya eksis pada waktunya, slametan justru masih tetap ada hingga sekarang. Masalahnya, penghayatan dan pelaksanaan tradisi ini mulai terkikis oleh reformasi pemikiran dan keyakinan. Simbol-simbol kebudayaan yang ada di dalamnya sudah kurang dimaknai sebagai sebuah kearifan tradisi yang dimiliki bangsa sendiri.

Begini, dalam buku “The Religion of Java,” Geertz menggunakan simbol-simbol sebagai interpretasi perilaku masyarakat Jawa yang dikelompokkan dalam tiga struktur sosial masyarakat yaitu golongan abangan, santri, dan priyayi. Kebetulan, Geertz melakukan penelitian di Mojokuto (Pare, Kediri) dalam menjelaskan trikotomi tipologi masyarakat itu. Simbol-simbol yang sejak lama ada dalam kepercayaan masyarakat dijelaskan sebagai pengetahuan harmeneutik yang sangat berharga bagi orang banyak.

Menurut Geertz, golongan abangan adalah masyarakat desa yang berprofesi sebagai petani yang mayoritas miskin dengan praktik agama menyimpang dari nilai-nilai Islam atau lebih menjunjung tinggi nilai-nila adat. Kaum santri adalah masyarakat kelas menengah yang menjalankan praktik agama secara benar (menegasikan tradisi). Sebenarnya, pemaknaan Geertz kurang jelas memberikan klasifikasi apakah perbedaan antara abangan dengan santri merupakan dimensi ekonomi atau agama, ataukah kedua-duanya. Sementara, kelompok priyayi digolongkan sebagai masyarakat yang berkedudukan sosial tinggi (secara ekonomi/jabatan), tidak fokus pada praktik agama yang mereka lakukan.

Dari konsepsi Geertz, ada beberapa kritik saya terkait bias dan subyektivitas yang tak terhindarkan akibat kurangnya multi-sited ethnography dalam penelitiannya di wilayah sempit Mojokuto. Geertz menyebutkan bahwa gerakan pembaharuan Islam yang masuk ke Indonesia; Jawa (lebih khusus di Mojokuto) merupakan benih bagi lahirnya nasionalisme yang menghasilkan kemerdekaan. Gerakan pemurnian Islam dianggap telah mampu mengurangi perancuan animisme dan mistisisme dalam masyarakat.

Pandangan ini lahir dari ketidakpahaman Geertz soal sejarah pembaharuan Islam yang justru melahirkan perpecahan di kalangan masyarakat. Hal ini terjadi karena upaya reduksi total atas praktik-praktik adat-istiadat yang turun-temurun dilakukan masyarakat sebagai warisan dan keluhuran budaya nenek moyang ke arah praktik agama Islam yang murni tanpa akulturasi, hanya menginginkan sinkretisme Islam yang diadopsi dari kebudayaan Arab; Arabisme.

Dalam sejarah Indonesia, meletus konflik horizontal akibat gerakan pemurnian Islam di Sumatera Barat tahun 1803. Konflik itu berlangsung antara kelompok masyarakat yang masih memegang tradisi dalam praktik agama (akulturasi) dengan kelompok yang memusuhi tradisi sebagai penyimpangan agama yang tidak bisa ditolerir sehingga terjadi perang besar selama 35 tahun (Perang Padri/Perang Haji Miskin). Ini sangat berlawanan dengan ungkapan Geertz bahwa gerakan ‘anti tradisi’ sebagai benih gerakan nasionalis di Indonesia.

Kekeliruan lainnya yaitu pandangan Geertz tentang upacara slametan yang kental dengan tradisi nenek moyang masyarakat Jawa dan merupakan hasil perpaduan budaya animisme, dinamisme, Hindu, Budha, dan Islam tersebut hanya dihayati secara mendalam dan dilakukan oleh kalangan abangan yang pemahaman agamanya dangkal atau masih kolot menjunjung tinggi tradisi leluhur saja. Padahal, faktanya, upacara slametan tersebut masih sama dipegang oleh masyarakat kalangan santri dan priyayi, hanya saja berbeda pemaknaan atas upacara-upacara tersebut.

Namun, saya tentu tidak akan menguliti secara dalam kelemahan perspektif yang disebut ‘arbitrary eclecticism’ (mungkin terlalu berlebihan) oleh Geertz sendiri. Saya ingin mengupas simbol-simbol yang dijelaskan oleh Geertz sebagai bentuk kedalaman rasa dan karsa masyarakat Jawa yang hidup penuh dengan kerumitan simbolis dan nilai-nilai filosofis yang dalam di setiap praktik adat-istiadat yang mereka jalankan. Simbol-simbol itu bukan sekedar tanda yang bernilai filosofis saja, tetapi merupakan praktik transendental sebagai sarana berhubungan dengan Tuhan dan berkomunikasi dengan alam (roh, makhluk-makhluk, dan semua isi alam) yang berkontribusi besar bagi keberlangsungan, keamanan, dan kesejahteraan hidup.

Banyak simbol di dalam praktik upacara slametan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa. Bagi kaum abangan, slametan sudah menjadi ritual keagamaan yang tidak boleh terlupakan (sacred ritual), jika tidak dilaksanakan akan membawa petaka bagi kehidupan mereka. Buat santri, slametan menggambarkan kebersamaan, tolong-menolong, dan kerja sama antar anggota masyarakat (bukan sebagai ritual). Keduanya berbeda dengan priyayi yang menempatkan slametan sebagai wadah memperlihatkan gengsi dan pengaruh. Walaupun pemaknaan slametan berbeda-beda berdasarkan realitas, fokus, dan interest masing-masing, tetapi secara umum slametan sebagai wadah interaksi sosial anggota masyarakat yang mempertemukan semua golongan dengan sistem adat-istiadat yang menjadi identitas bersama.

Ada simbol kebersamaan dalam slametan yaitu semua orang diperlakukan sama, tidak ada seorang pun yang merasa berbeda dan lebih rendah dari yang lain, serta tidak ada seorang pun yang berkeinginan memencilkan diri dari yang lainnya sehingga tercipta tatanan masyarakat yang harmonis. Selain itu, slametan merupakan simbol komunikasi yang baik antara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan untuk hidup bersama dan tidak saling mengganggu, saling memahami dan tolong-menolong baik sesama manusia, dengan arwah-arwah, makhluk halus, binatang, dan alam.

Keyakinan adanya makhluk halus seperti memedi, lelembut, gendruwo, sundel bolong, tuyul, demit, setan, jim, dan sebagainya untuk mengingatkan manusia supaya tidak berbuat onar dan sesuka hati di mana pun kita berada karena lelembut dan memedi yang hidup bersama manusia tidak ingin diganggu. Seseorang tidak mencari kekayaan dengan jalan yang salah karena stereotip masyarakat akan adanya tuyul. Bahwa mendapatkan harta dengan merugikan orang lain akan mendapatkan ganjaran yang sangat pedih menjelang ajal. Seseorang juga selalu dituntut untuk beribadah dan sembahyang kepada Tuhan sebagai bentuk rasa syukur. Jika tidak, jim akan mempersulit kehidupannya.

Masyarakat Jawa dilarang berputus asa, melamun, dan berpikiran kosong dalam menjalani hidup jika ingin terhindar dari kesurupan yang bahkan bisa menyebabkan gila karena diganggu oleh lelembut. Kepercayaan adanya dayang desa menjadi simbol bahwa seorang pemimpin harus adil, bijaksana, berbuat baik, dan melindungi masyarakat di desanya. Jika pemimpin sudah tidak bisa berbuat mulia, maka keburukan akan menimpanya dan desa yang dipimpinya akan mendapatkan bencana dan malapetaka karena para dayang dan lelulur desa sangat marah.

Kemungkinan-kemungkinan keadaan buruk yang akan menimpa manusia tersebut bisa ditaklukkan dengan tradisi slametan sebagai wadah komunikasi untuk mengharmonisasi kehidupan manusia dengan makhluk penghuni alam lainnya. Ini melukiskan kemenangan kebudayaan manusia atas kekuasaan alam dan keunggulan manusia atas bukan manusia. Di lain pihak, seseorang akan semakin hidup beradab, mantap, dan optimis karena sedikit saja berpikiran kosong, bingung atau tersesat, maka makhluk lain akan menguasainya.

Dalam siklus slametan terdapat kompleksitas simbolisme dalam semua peristiwa kehidupan yang menggambarkan sebuah busur upacara peralihan (rites of passage) yang melingkari kelahiran, pesta dan hiburan besar yang diatur dalam proses khitanan dan pernikahan, dan akhirnya upacara kematian yang hening dan mencekam. Kemudian usaha melepaskan kesedihan, mengembalikan ketentraman jiwa, dan berusaha mencapai keikhlasan dalam menghadapai fakta kehidupan yang merupakan siklus yang selalu berputar.

Semua simbol dalam siklus slametan dari proses kelahiran, khitanan, pernikahan, kehamilan, dan kematian mewakili rasa syukur, ibadah, dan hubungan transendental dengan pencipta. Itu semua dalam rangka mengharapkan kebahagiaan dan kesejahteraan, dijauhkan dari kesengsaraan dan kesulitan hidup, terbebas dari gangguan roh-roh, arwah dan makhluk lain penghuni alam, serta menjalin kebersamaan dengan sesama manusia untuk saling membantu, mencukupi, menghormati, tenggang rasa, dan menyerasikan kebutuhan manusia dengan keinginan Tuhan.

Misalnya, dalam siklus slametan kelahiran terdapat empat slametan utama dan berbagai slametan kecil. Tingkeban adalah slametan utama yang diselenggarakan pada bulan ketujuh kehamilan. Pada saat kelahiran bayi, ada slametan babaran atau barokahan, slametan lima hari setelah kelahiran (pasaran), dan slametan tujuh bulan setelah kelahiran (pinotan).

Dalam upacara tingkeban, semua tamu akan dijamu dengan sepiring nasi dengan campuran nasi putih di atas dan nasi kuning di bawahnya. Nasi putih melambangkan kesucian dan nasi kuning melambangkan cinta. Piring nasi tersebut terbuat dari daun pisang yang direkatkan dengan jarum baja agar anak yang akan lahir kuat fisiknya dan tajam pikirannya. Hidangan nasi putih dan kuning itu untuk memuliakan tujuh bulan yang dilewati jabang bayi sehingga mencapai keselamatan sampai kelahiran. Selain itu, disiapkan bubur merah dan bubur putih sebagai simbol bagi ayah (bubur merah) dan ibunya (bubur putih) yang akan menjamin keselamatan calon bayinya sampai lahir. Campuran kedua bubur tersebut dianggap sangat mujarab untuk mencegah gangguan makhluk halus apa pun.

Pada upacara slametan tujuh bulan tersebut, sangat jelas bertujuan mengharapkan keselamatan bagi calon bayi hingga nanti dilahirkan oleh ibunya. Hidangan-hidangan itu hanyalah sebagai simbol fisik harapan keselamatan sebagai perantara permohonan kepada Tuhan. Juga, doa dan harapan para tamu yang menyantap hidangan itu bagian dari komunikasi dengan Tuhan. Ini semua adalah manifestasi keyakinan bahwa Tuhan-lah yang mengatur kehidupan mereka.

Slametan menggambarkan nilai luhur kebudayaan manusia yang memiliki rasa dan karsa, serta dorongan cipta bagi lahirnya karya manusia untuk menjaga keberlangsungan kehidupan yang harmonis di masa kini dan masa yang akan datang. Slametan tidak hanya menjadi tradisi masyarakat Jawa, tetapi merupakan kebudayaan masyarakat Nusantara.

Oleh karena itu, nilai-nilai kebudayaan dalam upacara slametan harus tetap dipertahankan. Tidak boleh luntur dengan gencarnya upaya pemurnian agama yang menginginkan dikotomi tradisi dan ibadah. Padahal, menjalankan ibadah tidak hanya simbolik formal melalui rukuk dan sujud semata, melainkan dalam setiap gerak-gerik dan tingkah perbuatan bisa bernilai ibadah, termasuk dalam menjalankan tradisi.

Di sisi lain, kurang menarik membicarakan slametan di musim politik ini. Namun, jika mereka (para caleg dan kandidat) itu cerdas, nilai-nilai dan simbol-simbol dalam tradisi slametan bisa direnungkan untuk menyatukan banyak kekuatan. Kekuatan apa saja? Silakan pikirkan!

Penulis : Mulyadin Permana (Mahasiswa Program Doktor Antropologi Universitas Indonesia)

Bagikan Ini :