foto : net

telusur.co.id – Pengamat ekonomi, Anwar Nasution menilai lemahnya nilai tukar rupiah atas dolar Amerika karena lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

“Dari tahun 97, 2008, 2018 sampai sekarang kita diterpa krisis. Kalau saya merasa bahwa kita ini lemah fundamental ekonominya,” ucapnya dalam diskusi di menteng dengan tema ‘Bisa Kah Bersatu Menghadapi Krisis Rupiah?’ di Menteng, Jakarta, Sabtu (08/09/18).

Mantan ketua BPK ini pun memaparkan, lemahnya fundamental ekonomi bangsa Indonesia ini bisa dilihat dalam rasio pemerimaan pajak Indonesia saat ini menurun sekitar 10 persen dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya yang mempunyai nilai rasio penerimaan pajak sebesar 20 persen.

Serta tidak updatenya pelayanan bank-bank milik negara, dibandingkan bank-bank dari negara lain seperti China. Dari hal itulah ia menilai, saat ini Indonesia masih rawan dengan krisis karena masih bergantung dengan hutang.

“Indonesia sudah merdeka 73 tahun tapi masih saja hutang. Sekarang pembayaran hutang meningkat karena kurs yang tinggi harga tempe naik karena impor kedelai dari Amerika,” ucap yang juga pernah menjabat gubernur Bank Indonesia.

Untuk itu ia berharap, pemerintah Jokowi-JK bisa mengeluarkan peraturan yang bisa membuat fundamental ekonomi yang kuat untuk ekspor seperti mengevaluasi penerimaan pajak serta meningkatkan bunga pinjaman.

“Bunga hutang tinggi karena nilai kurs tinggi. Sebutkan beberapa penerimaan objek pajak, evaluasi itu tidak pernah lakukan malah ada amensti pajak. contoh Singapura atau Malaysia satu sen saja uang pajak itu kau tipu masuk penjara di sini mana ada, malah diberikan ampunan,” ungkapnya kembali.

Melihat keadaan seperti itu, ia khawatir Indonesia akan menjadi negara yang rawan untuk berhutang. (ham)

Bagikan Ini :