Maiyasyak Johan/Foto:istimewa

Oleh : Maiyasyak Johan

Sejarah Bangkit dan jatuhnya seorang Pemimpin dalam perspektif Islam dan sekuler memang beda. Namun pergantian adalah kata kuncinya.

Dalam sejarah islam, sebagaimana dinukilkan di dalam al-qur’an, Fir’aun Raja Mesir yang mengaku dirinya Tuhan dikalahkan oleh seorang utusan Allah Nabi Musa as tidak dengan bantuan pasukan, melainkan hanya seorang diri dengan mematuhi dan mengikuti semua perintah Allah. Begitu juga dengan Ibrahim as, seorang diri mengalahkan Raja yang berkuasa dengan cara mengikuti dan mematuhi perintah Allah, ada moment sunatullah disana, penghancuran patung dan dialektika penyadaran – tapi mereka orang-orang kafir yang lebih mengutamakan nikmat dunia bebal, bukannya berpikir melainkan melaksanakan perintah sang raja, mengumpulkan kayu dan membakar Nabi Ibrahim as. Bahkan ketika api telah padam dan Nabi Ibrahim tetap hidup serta tak mengalami cidera – mereka juga masih belum mau ber-iman. Mungkin jika merujuk kepada al-qur’an, mereka inilah manusia-manusia yang disebut: “summum bukmum umyum fahum layarjiun”.

Peristiwa itu terjadi ribuan tahun yang lalu. Tapi, seperti dikatakan juga di dalam al-qur’an, sangat sedikit mereka yang mau belajar dari peristiwa itu.

Sehingga ada yang masih takut menyuarakan kebenaran dan masih ada yang menjilat pada kekuasaan zholim, sekali pun jelas dan nyata kekuasaan itu ingkar kepada Allah

Pada periode Rasulullah, selain kisah perang badar dengan selisih pasukan, maka kisah perang Khandak adalah sesuatu yang luar biasa – itu juga karena mematuhi perintah Allah.

Demikian juga tentang kejayaan Muhammad Al Fatih, yang menjadi Panglima terbaik dan membebaskan Konstantinopel serta membesarkan Ustmani.Sebelumnya, Shalahunddin Al Ayubi, yang membebaskan Al-Quds mereka juga karena mematuhi semua perintah Allah dan menjalankannya mengikuti sunatullah. sehingga mengukir sejarah.

Selain soal dipergilirkannya kekuasaan serta kejayaan suatu kaum, kelihatannya ada pesan sejarah yang mesti dicermati dalam berbagai peristiwa di atas, yakni: tentang sikap istiqomah yang sepenuhnya menjadi “kata kunci” dari semua keberhasilan mereka menegakkan kalimah Allah dimuka bumi ini dan memperoleh penghormatan sbgmn layaknya.

Generasi buih kurang menghayati sejarah, dan ragu-ragu atas janji Allah, setengah hati, dan memandang tantangan yang ada tidak dalam perspektif sejarah islam, sehingga bukan saja mereka gagal mengukir dan mempertahankan kejayaan itu, tapi banyak diantaranya menjadi kaum yang menjual murah ayat-ayat Allah, berkhianat dan lebih mengutamakan dunia – karena itu hanya sedikit dari mereka yang mendapat kehormatan dihadapan Allah, itulah mungkin yang akan menjadi menyebab akan dilahirkan penggantinya oleh Allah.

Apakah itu semua karena generasi buih telah terperangkap masuk ke dalam lubang biawak, berpakaian, berpikir, bertindak dan hidup mengikuti suatu kaum, dan meninggalkan petunjuk serta kitab yang tak ada keraguan di dalamnya.

Sementara generasi buih kini bukan saja mengenakan pakaian seperti suatu kaum sehingga bisa disamakan dengan kaum tersebut, tapi lebih dari itu, sebab kini mereka bukan hanya berpakaian yang sama, melainkan juga berpikir dan bertindak mengikuti kaum tersebut – pagan dan sekuler – sehingga tidak ada yang tersisa dari islam dalam dirinya.

Jika demikian, maka pergantian generasi adalah sebuah keniscayaan – dan suksesi yang sedang terjadi cuma memperpanjang kesempatan kita menentukan posisi, kembali ke pangkuan orang-orang yang ber-iman atau semakin jauh dan dalam jatuh ke lubang biawak.

Sebelum suksesi itu terjadi, tentukanlah posisi anda, jangan sampai terjebak masuk dalam barisan yang antri ke lubang biawak – agar tak terhina dihadapanNya kelak, melainkan kembali ke jalan yang diridhoi-Nya.

Allahu’alam bissawab.

maiyasyak johan
advocate

Bagikan Ini :