Bendera Partai Golkar/Net

telusur.co.id – Peta politik menuju pemilu serentak 2019 akan memunculkan banyak kejutan bagi partai politik peserta pemilu. Salah satunya, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang berhasil menyalib saudara tuanya yakni Partai Golkar.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby mengatakan anjloknya suara dan dukungan rakyat Indonesia kepada Partai Golkar sehingga bisa dikangkangi Partai Gerindra karena di Golkar banyak kasus korupsi.

“Golkar terancam hanya menjadi partai papan tengah,” ungkap Adjie Alfaraby di sela-sela konferensi pers LSI di Jakarta, Rabu.

Dijelaskannya, ada beberapa alasan mengapa Partai Golkar dikalahkan oleh Partai Gerindra. Pertama, Partai Golkar tidak mempunyai figur pemimpin yang kuat untuk bisa menaikkan dan mengerek elektabilitas partai.

“Selain fakta bahwa tidak ada kader Golkar yang menjadi Capres atau Cawapres di Pilpres 2019, warisan Kasus Setnov dan Kasus Korupsi baru mempunyai efek elektoral negatif yang signifikan,” ujarnya.

Sementara Partai Gerindra bisa naik signifikan karena mempunyai figur yang sangat kuat untuk dijual kepada masyarakat. Apalagi, saat ini figur Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto juga sudah mulai turun ke lapangan.

Seperti diketahui, LSI melakukan survey pada 12-19 Agustus 2018 lewat wawancara tatap muka dengan instrumen kuesioner. Metode yang digunakan yakni multistage random sampling dengan 1.200 responden dan margin of error lebih kurang 2,9 persen.

Berdasarkan hasil survei itu, PDIP bercokol di urutan pertama dengan elektabilitas mencapai 24,8 persen. Adapun Gerindra duduk di posisi kedua dengan elektabilitas 13,1 persen. (ham)

Berikut prediksi lengkap perolehan suara partai di Pemilu 2019 berdasarkan survei LSI Denny JA:

  1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 24,8 persen
    2. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 13,1 persen
    3. Partai Golkar 11,3 persen
    4. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,7 persen
    5. Partai Demokrat 5,2 persen
    6. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,9 persen
    7. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 3,2 persen
    8. Partai Nasional Demokrat (NasDem) 2,2 persen
    9. Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 1,7 persen
    10. Partai Amanat Nasional (PAN) 1,4 persen
    11. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,6 persen
    12. Partai Bulan Bintang (PBB) 0,2 persen
    13. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 0,2 persen
    14. Partai Berkarya 0,1 persen
    15. Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) 0,1 persen
    16. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 0,1 persen
    17. Undecided voter 25,2 persen
Bagikan Ini :