telusur.co.id- Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan Retno Listyarti menilai, saat ini media sosial yang disalah gunakan bisa berdampak pada para perilaku para pelajar. Karenanya, banyak para siswa lintas sekolah tawuran salah satu penyebabnya awalnya saling ejek di medsos. Dampak saling ejek di medsos ini ada yang di bawa ke dunia nyata.

“Masalahnya sepele, seperti saling ejek di media sosial. Mereka pun kerap janjian tawuran melalui media sosial juga seperti menentukan tempat dan waktu tawuran, lengkap dengan jam yang disepakati,” ujar Retno dalam keterangan persnya kepada telusur.co.id, Rabu (12/9/18). Diketahui, salah satu siswa SMA di Jakarta berinisial AH (16 tahun) tewas akibat tawuran lintas sekolah.

Menurut Retno, siswa sekarang sudah cerdas. Untuk menghindari pihak kepolisian mereka menentukan waktu kapan tawuran dan itu seringa dilakukan dini hari dengan keadaan jalan sepi..

Biasanya para remaja yang tergabung dalam kelompok, menurut Retno, mereka melibatkan tidak hanya teman satu sekolah tapi juga berbeda sekolah.

“Jika beda sekolah biasanya ketika di jenjang sekolah sebelumnya mereka satu sekolah, misalnya saat SMP, namun pisah sekolah saat mereka SMA,” ucap dia.

Berdasarkan data di bidang pendidikan, KPAI mencatat kasus tawuran pelajarterus mengalami penurunan sejak 2014-2017.

Pada 2014 lalu, total kasus tawuran di bidanv pendidikan mencapai 24 persen, 2015 menurun jadi 17,9 persen, dan 2016 turun lagi menjadi 12,9 persen. Data itu diambil dari beberapa daerah di Indonesia dan tak berubah hingga 2017 lalu.

“KPAI mencatat terhitung sejak 23 Agustus 2018 hingga Sabtu (8/9) sedikitnya telah terjadi empat kali tawuran di wilayah berbeda yakni Permata Hijau, Kolong Tol JORR W2, Cileduk Raya wilayah Kreo dan Cileduk Raya Wilayah Kota Tangerang,” tandasnya.

Seperti diwartakan, AH (16 tahun) merupakan korban dari tawuran pelajar yang terjadi di Kebayoran Lama pekan lalu. Menurut Polisi, tewasnya AH karena diserang dengan celurit dan air keras. Pihak kepolisian puncepat bertindak dengan menangkap 29 orang dan 10 di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka.[Ipk]

Bagikan Ini :