Ketua MPR RI Beri Sambutan Didepan Mahasiswa

telusur.co.id – Ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), selepas jam 12 Waktu Indonesia Bagian Tengah, Kamis (13/9/2018), berkumpul di auditorium kampus yang berada di Jl. Juanda, Samarinda, Kalimantan Timur. Mereka berada di sana untuk mengikuti Sosialisasi Empat Pilar MPR.

Sosialisasi yang digelar pada hari itu sangat istimewa, langsung disampaikan oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan. Tak heran bila dalam sosialisasi hadir Rektor UMKT Prof. Bambang Setiaji dan para pimpinan Muhammadiyah Majelis Wilayah Kalimantan Timur.

Di awal sambutan, Bambang Setiaji mengatakan hadirnya Zulkifli Hasan merupakan kesempatan yang langka. Untuk itu diharapkan para mahasiswa menggunakan kesempatan sosialisasi itu dengan baik.

Ketika tampil di depan para peserta sosialisasi, Zulkifli Hasan mendapat sambutan, tepuk tangan yang meriah. Kepada mereka, mantan menteri kehutanan itu menyebut dalam soal pengamalan nilai-nilai empat pilar, Muhammadiyah sudah khatam.

“Muhammadiyah sudah melaksanakan Empat Pilar,” ujarnya.

Dicontohkan, sekolah dan perguruan tinggi yang dikelola Muhammadiyah, terutama yang berada di Indonesia bagian timur, peserta didiknya tak hanya ummat Muslim, ummat yang lain pun juga ada.

“Bahkan di Indonesia timur peserta didik perguruan Muhammadiyah mayoritas adalah non-Muslim. Jadi dari sini Muhammadiyah hadir untuk bangsa dan negara,” ungkapnya.

Tak hanya itu yang dicontohkan oleh pria asal Lampung itu. Dalam memilih ketua, menurut Zulkifli Hasan, Muhammadiyah menggunakan jalan musyawarah untuk mufakat sehingga tak ada unsur intimidasi atau iming-iming. Dari semua yang sudah dilakukan oleh organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu maka dirinya menyebut, “kalau Indonesia mau maju, belajarlah pada Muhammadiyah”.

Dalam sosialisasi yang diliput oleh beragam media, pria yang mempunyai hobby joging itu mengungkapkan bahwa Indonesia didirikan oleh kaum intelektual. Karena didirikan oleh kaum intelektual maka gagasan berbangsa dan bernegara sangat maju ke depan.

“Tahun 1945 kita sudah memikirkan negara kesejahteraan. Masalah ini menurutnya baru dibicarakan oleh negara lain 20 tahun kemudian,” katanya.

Sebagai kaum intelektual, para pendiri bangsa benar-benar memikirkan bangsa, negara, dan rakyat. Agus Salim, salah satu pendiri bangsa bahkan menyebut, menjadi pemimpin adalah jalan menderita.

Keteladanan dari para pendiri bangsa dikatakan Zulkifli Hasan tak hanya dalam kepemimpinan. Dalam pergaulan, sikap para intelektual itu dikatakan perlu ditiru.

“Meski IJ Kasimo dari Partai Katolik dan Natsir dari Masyumi namun mereka bersahabat. Meski Buya Hamka dan Soekarno pernah berseteru namun ketika Soekarno wafat, Hamka yang menyolatkan,” ungkapnya.

Sikap para pendiri bangsa itu menurut Bang Zul sesuai dengan cita-cita Indonesia merdeka, yakni bersatu, berdaulat, adil, dan setara. Setelah Indonesia merdeka 73 tahun, dirinya merasakan apa yang diteladankan para pendiri bangsa itu mulai pudar.

“Kepemimpinan kita sekarang berbeda dengan masa lalu,” papar Zulkifli Hasan seraya mengharap para pemimpin atau pejabat melayani rakyat.

Hal demikian perlu sebab mereka disumpah untuk taat pada konstitusi. “Taat pada konstitusi adalah mencerdaskah kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan ikut menciptakan perdamaian dunia,” tambahnya.[far]

Bagikan Ini :