Ketua Srikandi Sayang Sungai (S3), Septiana menyerahkan berkas laporan kepada pak H. Gus Irawan Pasaribu di gedung DPR.

telusur.co.id – Langkah Srikandi Sayang Sungai (S3) untuk menindaklanjuti dugaan pencemaran sungai Cileungsi, Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor patut diacungi jempol. Setelah melaporkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bogor, S3 melaporkan ke DPR.

“Alhamdulillah, S3 telah menyerahkan berkas laporan warga Bojong Kulur dan Ciangsana atas pencemaran Sungai Cileungsi, Kec. Gunung Putri Kab. Bogor kepada Ketua Komisi VII Bapak Gus Irawan Pasaribu dari Fraksi Gerindra,” tegas Ketua S3 Septiana kepada wartawan di gedung DPR, Senin 17 Sept 2018.

Dia berharap laporan yang diberikan kepada Komisi VII DPR, bisa diselesaikan dengan cepat dan cermat, tentunya dengan melibatkan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Yang menggembirakan Ibu menteri akan segera menindak lajuti laporan dari S3 melalui Ketua Komisi VII. Saya pun berharap Gubernur Jabar dan bupati segera sidak dan peduli akan masalah ini,” harapnya.

“Jadi kami komunitas S3 tetap menunggu hasil dari DLH dan instansi terkait yang akan melaporkan hasil investigasi ke S3, juga dari Kementerian melalui pimpinan DPR Fadli Zon, dan Ketua Komisi VII  pak Gus Irawan, dan pak Ramson Siahaan untuk mendorong kementerian Lingkungan Hidup lebih cepat, tanggap dan tegas menindak lanjuti masalah ini.”

Bagi Septiana, pencemaran lingkungan yang terjadi di sungai Cileungsi merupakan kesalahan fatal dan sangat merugikan warga sekitar. Karenanya, semua daya upaya akan dikerahkan untuk membela hak warga.

“Semua kami upayakan demi menyuarakan suara warga kami yang jadi korban pencemaran sungai yang diduga akibat limbah pabrik/industri.”

Dijelaskan dia lagi, pencemaran sungai Cileungsi bukan hanya berdampak kepada manusia tapi ekosistem pun terganggu. Bahkan, Septiana menceritakan akibat pencemaran yang terjadi banyak binatang yang menyerang rumah warga.

“Ketua RT ada yang laporan ke saya bahwa rumah warganya dimasuki biawak, ular, dll naik kerumah warga. Ini akibat dari ekosistem terganggu, binatangpun punya naluri jika tempat hidup mereka sudah rusak,” ujar dia. (ham)

Bagikan Ini :