telusur.co.id – Wakil Ketua MPR RI, Mahyudin mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan menjelang pemilihan presiden. Pesta demokrasi itu harus dihadapi dengan wajar karena pemilihan dilakukan setiap lima tahun.

Ajakan itu disampaikan Mahyudin dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR di Pondok Pesantren Miftahul Huda di Ngawi, Jawa Timur, Senin (17/9/18). Sosialisasi juga dihadiri masyarakat sekitar pondok pesantren.

“Saya sudah keliling mengajak masyarakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan kita. Kita berdoa saja, yang penting negara kita sejahtera,” kata Mahyudin.

Dia juga meminta masyarakat untuk menghormati siapa pun yang terpilih menjadi presiden dalam Pilpres pada April 2019. “Dalam Pilpres nanti siapa pun yang terpilih kita hormati,” ujarnya.

Karena itu Mahyudin meminta masyarakat untuk tidak perlu melakukan macam-macam, deklarasi ini itu. “Tidak usah rame dan ribut. Silakan datang ke kampanye Pilpres. Tidak datang ke kampanye juga tidak apa-apa. Silakan nanti mencoblos pada hari pemilihan,” pintanya.

Mahyudin mengharapkan masyarakat menghadapi pesta demokrasi secara wajar. “Menghadapi Pilpres secara wajar saja. Jangan hanya gara-gara beda pilihan, suami istri pisah, persaudaraan terputus,” ujarnya.

“Yang senang dengan Pak Jokowi, ya nanti di TPS monggo pilih Pak Jokowi. Yang tidak suka, ya tidak usah dipilih lagi. Ada masa kampanye pada 23 September 2018 sampai April 2019. Silakan kampanye dengan menjual ide dan gagasan. Silakan, jangan nyerang-nyerang. Jangan hanya gara-gara hastak tagar bisa terjadi keributan,” sambungnya.

Mahyudin meminta masyarakat agar tidak terpancing untuk terpecah belah. “Saya sendiri, kalau Pak Jokowi terpilih, ya Alhamdulillah. Mudah-mudahan beliau membawa Indonesia lebih baik lagi. Kalau Pak Prabowo yang menjadi presiden, juga alhamdulillah juga. Ya monggo silakan. Yang penting negara kita tetap utuh, masyarakat bisa lebih sejahtera lagi di masa datang,” katanya lagi.

Menurut Mahyudin, Pilpres adalah pesta demokrasi yang biasa. Rakyat benar-benar berdaulat dan menggunakan kedaulatannya dengan memilih secara langsung. Karena itu, jika terjadi gesekan di bawah adalah karena ada yang memprovokasi.

“Saya percaya ada orang di belakang yang memprovokasi, mengadu domba dan membikin gesekan di bawah. Kita jangan terpengaruh hal-hal seperti itu. Siapa pun presidennya, itulah presiden kita,” katanya.[far]

Bagikan Ini :