Gambar/Net

Oleh Maiyasyak Johan

Dalam peta dunia, ada sebuah negeri. Dan Negeri itu kini sedang dirundung malang, bukan karena ada gerombolan belalang yang menggagalkan panen atau banjir bandang yang memporak porandakan dan mematikan tumbuhan serta hewan peliharaan dan menyebabkan kelaparan serta penyakit.

Bukan, bukan itu, tapi serbuan dari makhluk yang hampir sama dengan kita. Kelihatan sepintas ia dan kelompoknya adalah manusia. Bukankah itu artinya sama dengan kita?

Tapi tunggu dulu, yang ini ternyata tidak bisa dilihat secara sederhana begitu. Mungkin posturnya, iya hampir sama, wajahnya ada yang tampan, cantik dan mempesona, kakinya juga dua. Tapi seperti kata orang bijak, mengukur keberadaan suatu makhluk apakah dia merupakan species yang sama dengan kita tidak bisa sesederhana itu. Sebab untuk mempersamakan suatu makhluk dibutuhkan yang lain – dulu jepang menjadikan “restorasi meiji” untuk mendapat perlakuan yg sama oleh komunitas masyarakat western. Artinya ada ukuran kualitatif dan kultural.

Itu artinya postur atau persamaan pisik saja belum mencukupi untuk dipakai sebagai ukuran mempersamakan. Bukankah tidak semua yang berkaki empat adalah sapi? bukankah tidak semua yang memakan rumput adalah kuda? karena kambing juga. Persamaan mereka memang ada, yakni sama-sama Binatang. Tapi binatang juga berbeda, ada yang halal, buas dan mematikan. Itulah sebabnya lokasi hidup binatang pun kemudian berbeda. Selain ada yang dikuasai dan menguasai. Dan binatang yang menguasai ini, mengunakan hukumnya sendiri menjadikan binatang lain sebagai korbannya.

Lalu makhluk apakah itu? tidak ada yg bisa mengatakannya, tapi makhluk ini lebih buas dari semua makhluk yang pernah ada dengan pertumbuhan yang lumayan besar dan mulai bertebar ke seantero negeri itu.

Makluk ini dan kaumnya datang dari jauh, mereka membunuh semua pikiran sehat dan yang berbeda dengan bengis. Dialektika mereka bunuh, dinamika dan harapan kehidupan mereka pasung, keinginan untuk melakukan perubahan dan perbaikan dipandang sebagai suversib dan kejahatan.

Hukum sepenuhnya ada dalam tafsir mereka – mereka selalu tampil dalam berragam wajah – untuk menguasai sistem kehidupan dan kekayaan alamnya, tapi juga memperbudak dan mengendalikan penduduknya yang telah mereka pecah-pecah. sebahagian ada yg bekerja hanya menjadi pengabdi absolut pada kepentingan mereka dan sebahagian lagi tertindas tidak berdaya kecuali hanya mengurus perutnya dan hanya sebahagian kecil yang tersisa melawan membangun kesadaran dengan dialektika sejarah dan kehidupan.

Kini proses akhir dari destruction of life kaum-kaum di negeri itu sedang memasuki wilayah yang paling essensial dan mendasar dari kehidupan mereka – yakni “agama” mereka mulai disentuh dengan pendekatan “local lebeling”, untuk menjadikan “agama” itu adalah “asing” dan karena itu harus “disesuaikan” dengan “local culture” dan diberi identitas local.

Kekhawatiran dan kegelisahan berkembang merata, sebahagian merujuk kepada malangnya nasib bangsa Rohingya, Bangsa Tibet, dan Kaum Uyghur. Tapi ada yg merujuk kepada kejahatan “Kemal Ataturk” (1881 – 1938) yang semula adalah seorang “Prajurit” Khalifah Ustmani dan “dianggap berjasa” pada Perang Dunia I terhadap Bangsa Turki yang dengan licik kemudian menjadi Presiden Turki 1923 dalam Kekhalifahan Turki Ustmani dan pada tahun 1924 menghapus kekhalifahan dimuka bumi – dengan segala akibatnya yang bisa dirasakan hingga kini.

Kesadaran terutama karena tak ada yang ingin negeri itu mengalami nasib yang sama sebagaimana yang dialami oleh negeri-negeri tersebut di atas – telah membangkitkan para aktivis dan ulama di negeri itu.

Namun referensi dan pemahaman sejarah para aktivis dan ulama belum sama – terutama karena proses mengenali makhluk itu belum dilakukan, sehingga makhluk itu masih bebas melengang dan wara-wiri melakukan “kerusakan” di negeri itu. mengenali dan menyamakan perspektif agaknya penting dan utama.

Dengan begitu, agaknya proses mengenali makhluk itu berikut berbagai modus operandinya perlu dijadikan prioritas agar umat dan masyarakat terutama para aktivis dan ulama bisa menangkal semua kejahatan mereka terhadap negeri itu. Sebelum semuanya menjadi terlambat.

Sebab Turki membutuhkan waktu hampir satu abad – itu juga baru pada mengembalikan spiritnya – belum jiwa dan eksistensi utuhnya – tapi itu pun dengan kondisi yang tak henti hingga hari ini menghadapi berbagai gangguan dari dunia sekelilingnya.

maiyasyak johan
advocate

 

Bagikan Ini :