Utut Adianto/telusur.co.id

telusur.co.id – Penyidik KPK mencecar Wakil Ketua DPR RI Utut Adianto dengan sebelas pertanyaan, yang salah satunya seputar hubungannya dengan Bupati Purbalingga, M. Tasdi.

Hal itu sebagaimana disampaikan politikus PDI Perjuangan itu, usai digarap KPK sebagai saksi untuk Tasdi, di gedung KPK, Jakarta, Selasa (18/9/18).

“Nanyain hubungan saya. Memang saya dari Purbalingga, Dapil saya kan Purbalingga, Kebumen dan Banjarnegara,” kata Utut.

Namun sayang, ia tidak banyak bicara, termasuk soal pengakuan Tasdi terkait aliran uang suap yang mengarah ke kegiatan partai, dimana posisi Tasdi sendiri merupakan Ketua DPC PDIP Purbalingga, sebelum terlibat suap.

“Ini kan termasuk materi tanya ke penyidik ya,” kata dia.

Tasdi sendiri terlibat dalam kasus suap penanganan sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Pemkab Purbalingga, Jawa Tengah.

Dalam kesaksian Tasdi di persidangan untuk empat terdakwa dalam kasus ini, ia mengaku sempat menyampaikan kepada Kepala ULP Pemkab Purbalingga Hadi Iswanto bila dirinya butuh uang Rp 500 juta.

Hadi kemudian melanjutkan pesan itu ke terdakwa Librata selaku kontraktor yang menangani proyek pembangunan Islamic Center di Kabupaten Purbalingga.

“Saya sampaikan butuh Rp 500 juta untuk kepentingan partai,” kata Tasdi saat bersaksi di pengadilan Tipikor Semarang, Senin kemarin.

Menurutnya, sebagai kader partai, ia memiliki komitmen memenangkan Pilkada. Sehingga ia pun membutuhkan uang tersebut.

“Saya bertanggungjawab memenangkan partai. Kalau tidak memenangkan partai, nanti tidak direkomendasi lagi.”

Dalam kasus ini, Tasdi dan Hadi ditetapkan sebagai pihak penerima suap, sementara tiga pengusaha lain yakni Hamdani Kosen, Librata Nababan, dan Adirawinata Nababan ditetapkan sebagai pemberi suap.

Dari lima tersangka tersebut empat tersangka diantaranya telah menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Semarang, sementara Tasdi sejauh ini prosesnya masih menjalani penyidikan di KPK. [ipk]

Bagikan Ini :