telusur.co.id – Bekas Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin diminta untuk kooperatif setelah dua kali mangkir dari panggilan penyidik Kejaksaan.

Sedianya, Alex dipanggil sebagai saksi dugaan korupsi dana hibah dan bantuan sosial (bansos) Pemerintah Provinsi Sumsel tahun anggaran 2013.

“Kita harapkan yang bersangkutan kooperatif,” kata Jaksa Agung, HM Prasetyo di Kantor Kejagung RI, Jakarta, Jumat (21/9/18).

Agar semuanya segera selesai dan tuntas dengan jelas, kata Jaksa Agung, tidak ada gunanya untuk mengulur waktu dan mempersulit proses hukum.

Kendati demikian, ia menyatakan dua kali ketidakhadirannya memenuhi panggilan penyidik, alasannya cukup bisa diterima.

“Kita berpikir positif saja bahwa ketidakhadiran yang bersangkutan betul-betul karena melaksankan tugas-tugas negara.”

Pada April 2016, Alex Noordin juga pernah diperiksa di Gedung Bundar Kejagung, sebagai saksi dalam perkara yang sama.

Saat itu, dia ditanyai mengenai kebijakan, prosedur tentang hibah dan bansos Pemprov Sumsel tahun 2009-2014 sejumlah Rp 2,1 triliun.

Disebutkan, penyidikan kasus tersebut tidak terlepas dari dua kali putusan praperadilan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa kejaksaan harus melanjutkan perkara itu.

Sedangkan dua tersangka lagi yang sudah disidik sejak pertengahan 2016, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Selatan Laonma Tobing dan mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sumatera Selatan Ikhwanuddin, saat ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap. [ipk]

Bagikan Ini :