telusur.co.id— Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono berada di Madrid, Spanyol, dalam rangka Business Indonesia Roundtable Meeting.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerjasama kedua negara baik level government to goverment (G2G) maupun business to business (B2B) khususnya di bidang pembangunan infrastruktur. Dari sisi kerjasama ekonomi Indonesia dengan negara-negara Uni Eropa, Spanyol menempati urutan ke-6 dibawah Belanda, Jerman, Inggris, Perancis dan Italia.

Basuki juga melakukan pertemuan dengan pimpinan perusahaan konstruksi Centunion Group membahas peluang kerjasama teknologi jalan layang dan jembatan rangka baja untuk mendukung konektivitas antar wilayah di Indonesia.

“Pembangunan jalan layang dan jembatan di Indonesia masih dominan menggunakan konstruksi beton seperti pembangunan Jalan Tol Layang Cikampek. Penggunaan konstruksi baja dalam pembangunan jalan layang dan jembatan sangat dimungkinkan,” kata Basuki dalam keterangan persnya, Jumat (21/9/18).

Dijelaskan Basuki, pembangunan infrastruktur termasuk jalan dan jembatan, saat ini telah menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Hal initl salah satu tujuannya untuk memangkas waktu tempuh dan biaya logistik sehingga akan meningkatkan daya saing nasional.

PUPR, kata dia, sudah memiliki pengalaman kerjasama dengan Spanyol dalam pembangunan jembatan rangka baja periode 1999 hingga 2015 dengan nilai pinjaman EUR 184,7 Juta. Selain itu kerjasama pembangunan instalasi pengolahan air skala kecil dilakukan 2016-2018 dengan nilai EUR 13,59 juta.

Centunion telah berpengalaman di Indonesia sejak 1976 silam. Centunion telah terlibat dalam berbagai pembangunan infrastruktur dengan nilai sekitar EUR 2,5 miliar. Beberapa kerjasama yang dilakukan antara lain proyek Dumai Hidrocraker Indonesia, Fatty Alcohol Plant, Cold Rolling Mill, Perkasa Cement Indonesia, dan penyediaan material rangka baja dalam pembangunan jembatan di Indonesia.

Basuki juga menyampaikan bahwa Indonesia terus meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada proyek pembangunan infrastruktur.

Saat ini, TKDN dalam pembangunan infrastruktur yang dilakukan PUPR mencapai 87 persen, bahkan untuk sektor perumahan seluruh semen dan pasir sudah mendekati 100 persen.

Disamping itu, PUPR juga berkomitmen untuk menggunakan material produksi dalam negeri dalam pembangunan 330 jembatan gantung pada periode 2015-2019.

“Salah satu skema kerjasama yang perlu ditindaklanjuti adalah dengan memanfaatkan produk baja dari PT. Krakatau Steel sebagai bahan baku untuk pembangunan jalan dan jembatan berstruktur baja di Indonesia. Keuntungannya selain TKDN kita terjaga, pelaksanaan bisa berlangsung lebih cepat dari sisi waktu dan lebih memperhatikan sisi estetika,” tandas Basuki.[Ham]

 

Bagikan Ini :