telusur.co.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) dari jauh-jauh hari mengingatkan sekaligus mengumumkan kepada partai politik maupun tim pendukung agar tidak membawa atribut pada saat deklarasi damai di Monas, Jakarta Pusat.

Tapi, himbauan KPU nampaknya dianggap angin lalu oleh tim dan pendukung Jokowi-Ma’ruf. Karena faktanya, himbauan KPU diduga dilanggar. Para pendukung inkumben tetap membawa atribut pada saat deklarasi damai.

Melihat pelanggaran itu, beberapa elite partai politik merasa keberatan. Yakni Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifki Hasan yang merasa tertanggu.

Alhasil, SBY meninggalkan tempat acara lebih awal. Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengungkapkan bahwa SBY balik lebih dulu karena keberatan dengan pelanggaran yang ada.

“Kami mengikuti aturan, ketika rombongan kami bersama SBY melintas, kami mendapat teriakan dari sebelah kanan kami melihat bendera ‘Projo’ ini kami anggap ketidakadilan dalam deklarasi kampanye damai,” beber Ferdinand Hutahaean.

SBY menyatakan protes dan meninggalkan acara lebih awal karena edaran tidak boleh membawa alat peraga kampanye karena semua disediakan oleh KPU.

“Kami mengikuti aturan itu, ternyata mereka tidak mengikuti aturan itu. Kami merasakan terjebak dalam euforia permaianan sekelompok Pak Jokowi,” ungkap Ferdinan. (ham)

Bagikan Ini :