Margarito Kamis/Net

Pemilu, sesungguhnya secara konseptual merupakan temuan mengagumkan orang hebat untuk menandai dan memastikan kehebatan republik dalam menemukan pemimpin. Karena merupakan pranata republik, pemilu semestinya menandai setiap sudutnya dengan perilaku santun. Civility, begitu seharusnya pemilu disemangati, digerakan dan dinikmati.

Sebagai antitesa teokrasi, oligarki dan kerajaan, republik mengimpikan pesona ketaatan figur calon pemimpin terhadap hukum. Gagasan keadilan, bukan tipu daya, bukan bualan, mesti keluar dari mulut calon pemimpin, yang hikmahnya menuntun warga menyusuri hari esoknya. Kata demi katanya, tidak menjadi sumbu persekusi warga.

Fenomena

Impian seindah itu, sayangnya tidak cukup menarik dalam dunia pemilu. Sepanjang sejarahnya, pemilu menandai sifatnya sebagai dunia yang relatif kejam. Dunia pemilu, nyata tak menyediakan tempat indah buat hal-hal santun. Dunia pemilu bukan dunia rasa, bukan pula dunia kandidat semata. Dunia pemilu juga bukan dunia para sofis, para bijak. Ini dunianya banyak orang, laki dan perempuan, tua dan muda, banyak hati, dengan rasa, emosi dan kepentingan yang beragam.

Setiap inci dan detik dalam dunia pemilu, kalau tidak membutuhkan, sering diisi dan dihiasi orang-orang kaya trik menyesatkan, cercaan, hinaan dan hal buruk lainnya. Bukan hanya kandidat, para pendukung pun menjadi alamat cercaan, hinaan dan lainnya yang sejenis. Sungguh, pemilu menjadi dunia bikinan republik yang tidak sepenuhnya bebas dari kekejaman, yang bisa menggoyahkan sendi-sendi utamanya.

Dalam pemilu harus ada yang menang. Menang adalah segala-galanya. Menang ya menang, dan kalah ya kalah. Tidak ada kekalahan, begitulah hukum besi republik, yang mengantarkan seseorang ke tampuk kekuasaan. Menang, ya berkuasa. Berkuasa ya menggenggam hukum, ekonomi dan semua yang lainnya, mengatur dan memerintah.

Republik, jelas menyediakan panduan yang menang yang berkuasa. Berkuasa, semestinya, begitulah panduan republik, tidak berhak berbuat apa saja. Tetapi dalam jejaknya yang panjang, republik cukup sering kalah langkah dalam memagari para pemenang atas penetrasi cukong yang telah membantunya, menyediakan uang menduduki kursi kekuasaan.

Harapan

Ketika Al Gore menyusuri sebuah sungai dengan sebuah sampan kecil untuk pose foto “lingkungan” tulis Maurice Murrad, seorang jurnalis kawakan yang memulai karirnya di CBS pada tahun 1962, yang tulisannya dihimpun dalam Buku Mesin Penindas Pers, Komite Nasional Republikan menyebarkan keterangan pers. Dalam keterangannya Komite menyatakan air dihambur-hamburkan dari bendungan, di hulu sungai atas perintah kampanye Gore. Tujuannya agar dia, Gore, dan perahunya dapat melaju. Fitnah ini muncul disemua surat kabar esok harinya. Ternyata air memang dilepas dari bendungan setiap hari, dan pada saat photo diambil, air yang dilepaskan lebih sedikit dari biasanya.

Masih dalam kasus Al Gore, Greg Palast, Jurnalis top yang juga penulis The Best Democracy Money Can Buy, menulis Jep Bush, adik George W. Bush Jr, melanggar perintah pengadilan dengan menolak mendaftarkan 50.000. orang yang memiliki catatan kriminal di negara bagian lain. Palast melanjutkan, kenyataannya 90% dari pemilih adalah Demokrat. Soal sepenting ini, nyatanya tidak menjadi berita, karena, catat Palast, manuver ini lebih merupakan bagian dari pertanggungjawaban atas kemenangan Bush.

Murdoch, dalam kasus berbeda, tulis Micael Wolf, dalam Fire and Fury Mengungkap Rahasia Memalukan Dalam Pemerintahan Donald Trump, diidentifikasi pernah meremehkan Trump. Tidak itu saja, Wolf juga menulis pada tahun-tahun sebelum pemilihan, dalam isu yang lain, Carl Icahn pernah mengejek sahabat miliardernya itu. Katanya, Dia tak terlalu miliarder. Padahal Icahn sering disebut Trump sebagai sahabat dan pernah diajak menduduki jabatan tinggi, tutupnya.

Hillary Clinton, perempuan hebat, yang menanjak hingga menjelang akhir kampanye menuju kursi presiden, tiba-tiba dipusingkan dengan investigasi atas email-emailnya. Investigasi yang dilakukan Jim Comey, Direktur FBI, terlepas ada atau tidaknya motif mengalahkan Hillary Clinton, tetapi Rod Rossentein, Deputi Attorney General Departemen Kehakiman Amerika Serikat, menilai tindakan investigasi itu salah.

Menarik, pemilu berakhir dengan Trump sebagai pemenang. Tuduhan palsu, fitnah, bualan dan sejenisnya, semoga tidak menyertai dan menandai kekejaman pemilu presiden kali ini. Tidak mungkin melarang orang berkumpul mengekspresikan pilihannya dalam kampanye pemilu. Berkumpul dan ekspresikan pendapat dengan santun, agar kumpulan anda tidak berubah jadi kawanan yang kebingungan dan kejam.

Di atas semuanya, para bos mesti mengayuh pemilu ini dengan moralitas ketaatan dan disiplin yang diminta hukum. Taat dan disiplin pada perintah hukum tak boleh terbakar oleh ambisi memenangkan pemilu. Taatlah hukum, tidak mengakalinya, memutarbalikannya, terutama aparatur hukum adalah kunci republik menggapai pemilu yang santun dan sentosa, sekaligus mereduksi kekejamannya. Semoga.

Penulis: Margarito Kamis

(Doktor Hukum Tata Negara, Dosen FH Iniv. Khairun Ternate)

Bagikan Ini :