telusur.co.id – Ketua Umum Bintang Mercy Indonesia, Farhan Effendy mengaku kecewa dengan ulah sekawan relawan Projo yang mensoraki bapak SBY dalam acara kampanye damai di Monas, Minggu.

“Kami sampaikan kepada Projo janganlah berjalan di bumi ini dengan kesombongan. Suatu saat rakyat akan menghakimimu. Dan ingat, jika Jokowi tidak bisa menertibkan relawanya kami akan sikat tindakan tak bermoral tersebut. Tindakan gerombolan yang merusak etika dalam berdemokrasi,” tegas Farhan melalui keterangan tertulisnya, Senin.

Farhan mengingatkan kepada Projo bahwa SBY adalah presiden dua periode yang dipercaya mayoritas rakyat. Itu artinya pendukung dan kecintaan rakyat kepada beliau tidak main-main. Menyakiti SBY berarti menyakiti Rakyat.

“Kami tegaskan juga, Ini akan menjadi awal bagi para pejuang dan pembela demokrasi untuk mewaspadai gerakan gerakan selanjutnya dari projo. Kami menganggap Projo telah merusak dan meluluh lantakkan simpati masyarakat.”

Dan hal ini pasti akan dicatat oleh rakyat bahwa Projo adalah organisasi urakan tak punya etika. Belum menang lagi saja Projo sudah bertindak tepuk dada, sok jago karena kekuasaan dibelakangnya, apalagi nanti kalo Jokowi berkuasa lagi.

“Tindakan semacam ini tentu harus menjadi perhatian semua komponen penyelenggara pemilu KPU, Bawaslu, juga penanggung jawab keamanan di Republik ini, TNI juga Polri. Selanjutnya kami minta ketua Projo menertibkan anak buahnya,” desaknya.

Selanjutnya, Bintang Mercy Indonesia sebagai simpatisan dan pendukung militan SBY dan AHY meminta kepada seluruh perwakilan bintang mercy di indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap relawan Projo yang melakukan tindakan yang menyakiti presiden RI ke 6 sebagai tindakan yang menyakiti rakyat indonesia.

“Saya sampaikan kepada seluruh kader Bintang Mercy Indonesia dan juga seluruh rakyat pencinta demokrasi dan perdamaian, mari kita awasi relawan ini dan lagi jangan ada lagi relawan relawan jokowi yang akan bikin gaduh pemilu nanti.
Kami menilai peristiwa ini akan menjadikan segenap elemen bangsa yang ingin perubahan untuk mempercepat pergantian kepemimpinan saat ini. Kepemimpinan yang berjuang lebih pada golongannya sendiri dan bukan golongan umum,” tuntasnya. (ham)

Bagikan Ini :