Maiyasyak Johan/Foto:istimewa

Oleh : Maiyasyak Johan

Jalanan di kota-kota besar di Indonesia, tak hanya jakarta belum atau bukan tempat yang ramah – karena itu tak jarang orang terjebak dalam KESEMRAUTAN DAN KEPADATAN lalu lintas – baik di jalan utama maupun di jalan Tol.

Keadaan itu bertambah runyam dan kadang membuat para pengendara lain jengkel serta ngedumel, terutama karena di atas kondisi yang mampet tak bergerak tiba tiba ada permintaan kemudahan orang-orang yang atas dasar protokoler atau undang-undang untuk didahulukan atau diberi jalan untuk didahulukan.

Permintaan itu biasanya disertai dengan serine yang membuat “pekak” telinga dan menjengkelkan – terutama karena kondisi dijalanan seperti Jakarta “padat”nya luar biasa. Kejengkelan itu memang belum disuarakan – tetapi bukan tidak ada.

Kejengkelan para pengendara pengguna jalan itu sebenarnya bisa terobati terutama jika pasukan pengawal menghadirkan keramahan ketika meminta jalan tersebut, tetapi sebaliknya akan sangat menjengkelkan bagi masyarakat pengguna jalan yang lain ketika tindakan itu terkesan mentang-mentang.

Memang belum pernah ada pejabat atau tim-wal yang ber-empati mau mendengarkan keluhan masyarakat pengguna jalan umum atas hal itu. Tapi itu bukan berarti tidak ada – melainkan ada, namun belum didengarkan. Karena itu, mungkin sudah saatnya para pejabat pengguna jalan yang memperoleh hak protokoler – untuk mengingatkan kepada para petugasnya bahwa para pengguna jalan itu juga berhak utk dihormati, sehingga hak protokoler itu tidak tumbuh menjadi sesuatu yang bersifat mentang-mentang yang menjengkelkan dan tersimpan dihati masyarakat pengguna jalan lainnya.

Banyak peristiwa mungkin bisa terjadi di atas kepadatan lalu lintas, satu di antaranya adalah kemungkinan sebuah mobil atau kendaraan terjebak masuk dan ter-ikut masuk ke dalam mobil rombongan – dan untuk keluar dari rombongan tidak mudah – sebab selain harus tetap menjaga kecepatan agar tidak terdorong dari belakang, juga harus menunggu tersedia jalan untuk berpindah ke jalur yang aman agar tidak terjadi tabrakan.

Kejadian masuk atau terjebak ke dalam mobil iring-iringan yang demikian bisa dialami siapa saja, termasuk saya pernah, tidak sekali – dan jika dijalan tol – terutama ketika padat, pilihannya tidak ada – berhenti mustahil, pindah jalur tidak bisa bahkan tidak mungkin, satu-satunya yang tersedia mengikuti iring-iringan untuk menunggu kesempatan ke luar, dan itu yang saya lakukan. bagi yang tak terbiasa, apalagi jika pengawal iring-iringan tersebut terlihat sangar – kemungkinan ada pengendara yang gugup dan membuat kesalahan bisa saja terjadi – dan menurut hemat saya penyelesaiannya adalah: harus dengan kearifan.

Karena masalah sesungguhnya dijalanan itu sangat banyak dan Pemerintah yang masih gagal disana.(***).

 

maiyasyak johan
advocate

Bagikan Ini :