telusur.co.id – Di bulan September, Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar) merayakan dies natalis. Dalam Dies Natalis XII Tahun 2018, Polnustar menggelar berbagai rangkaian acara dan kegiatan, salah satunya adalah Sosialisasi Empat Pilar MPR.

Dalam Sosialisasi Empat Pilar yang digelar di Auditorium J. E. Tatengkeng, Kampus Bahari, Jl Kesehatan No. 1, Tahuna, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, 26 September 2018, hadir ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan dan prodi. Sedang dari MPR hadir Wakil Ketua MPR E. E. Mangindaan, anggota MPR dari Fraksi PAN Bara Krisna Hasibuan, dan anggota MPR dari Kelompok DPD Stevanus B. A. N. Liow.

Mangindaan dalam kesempatan itu mengatakan bahwa sosialisasi yang dilakukan untuk menyegarkan ingatan masyarakat di Sangihe akan arti penting Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Mangindaan juga mengungkapkan, Sosialisasi Empat Pilar pernah digugat oleh sekelompok masyarakat. Mereka menggugat karena menyamakan Pancasila dengan pilar-pilar yang lain.

Gugatan berlangsung di MK dan menghasilkan kemenangan bagi pihak yang menggugat. Menghadapi yang demikian, MPR menghadapi dilema sebab nama Empat Pilar sudah popular. MPR akhirnya memohon kepada MK agar tetap bisa menggunakan Empat Pilar. “Permohonan itu dikabulkan namun keempat hal tadi harus disebut satu-satu secara lengkap”, ujar mantan Gubernur Sulawesi Utara itu.

Mangindaan pun menyebutkan Empat Pilar MPR, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara dan Ketetapan MPR, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Dalam mensosialisasikan Empat Pilar, diakui Mangindaan banyak tantangan yang dihadapi. “Seperti adanya kesenjangan sosial”, ungkapnya. Dilema bagaimana saat sosialisasi, rakyat lapar, tak punya pekerjaan, dan problem sosial lainnya.

Untuk itu dirinya mengharap kepada mahasiswa Polnustar, kelak bila menjadi pemimpin harus mampu mengatasi berbagai masalah yang ada. “Kalian menjadi pengganti saya”, katanya. “Jangan jadi jago kandang”, tambahnya. Mangindaan berharap agar mahasiswa melanglang ke berbagai tempat di seluruh penjuru bumi. “Saya pernah bertugas di Aceh, Papua, dan tempat lainnya di Indonesia”, ujarnya.

Sebagai mahasiswa politeknik, diharap lulusan Polnustra mampu melahirkan engineer yang mampu menciptakan inovasi. Inovasi yang ada diharapkan mampu menjawab tantangan bertambahnya penduduk yang berakibat pada meningkatnya kebutuhan pangan, energi, dan air.

Diceritakan dulu produksi padi dalam satu hektar menghasilkan panen sebanyak 3 sampai 4 ton. “Setelah ada inovasi, panen padi dari satu hektar sawah mampu menghasilkan sampai 8 ton”, paparnya. Inovasi-inovasi yang demikianlah yang diharapkan lahir di kampus yang sebelumnya berstatus swasta itu.

Diakui proses Polnustar menjadi negeri tak gampang. Untuk itu kekurangan yang ada perlu diatasi bersama. “Saya mendoakan Polnustra menghasilkan manusia yang maju”, ucap Mangindaan.

Direktur Polnustar, Prof. Dr. Frans G Ijong MSc, dalam sambutan mengakui kampusnya beruntung kedatangan tamu terhormat dalam rangka melakukan Sosialisasi Empat Pilar[]

Bagikan Ini :