Eni M. Saragih/Net

telusur.co.id – Sebagai petugas partai, Eni Maulani Saragih mengaku hanya menjalankan tugas dari atasannya, yakni Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, termasuk dalam kaitan proyek pembangunan PLTU Riau-1 yang kini mandek lantaran bermasalah dengan KPK.

Kepada penyidik KPK, Eni mengaku sudah membeberkan soal pertemuan-pertamuan terkait pembahasan PLTU Riau-1 yang juga dihadiri oleh Airlangga Hartarto.

“Pokoknya begini, memang ada pertemuan. Macam-macam. Beberapa tempat. Saya sudah sampaikan juga di penyidik (KPK),” kata Eni di markas KPK, Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/9/18).

“Saya kan sudah berjanji untuk koperatif.”

Eni sendiri dipanggil KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi, untuk tersangka bekas Sekretaris Jenderal Partai Golkar, yang juga bekas Menteri Sosial Idrus Marham.

Eni bahkan sudah mengakui dirinya sempat menerima uang suap dari pemilik Blackgold Natural Resources Limited, Johanes B Kotjo terkait proyek senilai USD 900 juta itu.

BACA JUGA :  Diperiksa KPK, Yasonna Akui Tidak Ada Yang Baru

Eni juga telah menyatakan siap untuk mengembalikan uang yang ia terima dan pakai dari hasi ‘haram’ itu kepada KPK, meski dengan cara mencicil. Namun, Eni emoh mengorbankan dirinya untuk mengembalikan uang suap yang diterima dan masuk ke Partai Golkar, untuk Munaslub saat mengukuhkan Airlangga sebagai Ketum pengganti Setya Novanto.

Sebelumnya, Airlangga disebut pernah bertemu Eni untuk membahas proyek PLTU Riau-1. Ha itu diungkapkan Eni kepada pengacaranya, Fadli Nasution.

Menurut Fadli, pertemuan membahas proyek senilai USD 900 juta itu juga dihadiri Ketua Fraksi Golkar Melchias Marcus Mekeng, bekas Sekjen Golkar Idrus Marham, serta pemegang saham Blackgold Natural Recourses Limited Johannes B Kotjo. Pertemuan dilaksanakan setelah Airlangga menjabat Ketua Umum Partai Golkar yang baru.

BACA JUGA :  Fahri Tak Gentar Dengan Ocehan Nazaruddin

Airlangga sendiri telah membantah tudingan itu. Menteri Perindustrian itu menyebut pemberitaan tersebut telah menyudutkannya dan fungsionaris Partai Golkar.

“Berita dan opini tersebut tidak benar, tidak berdasarkan fakta dan tidak adil. Karena itu melanggar kode etik jurnalistik yang bermartabat,” kata Airlangga di DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (26/9).

Airlangga menegaskan, dirinya tidak pernah sedikit pun terlibat proyek PLTU Riau-I yang menjadi pokok berita kedua media tersebut. Dia menuturkan, pendanaan Partai Golkar juga telah terprogram. Ia juga menepis hasil suap Eni Saragih mengalir ke Munaslub Golkar pada 2017 silam.

“Saya tidak pernah memerintahkan atau meminta kader-kader Golkar atau siapa pun untuk mencari dana yang tidak benar atau melanggar hukum untuk kepentingan atau kegiatan Partai Golkar.” [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini