Tampak dalam gambar Adnan Buyung Nasution (alm),, WS Rendra (alm), Hariman Siregar sebagai tamu senior/Istimewa

Oleh Sayuti Asathri

 

Hampir tiap minggu ada mimbar bebas di depan Rektorat UI sejak tahun 1977 hingga 1982 efektifnya. Mimbar tersebut diberi nama apel siaga, dengan logo “Tiada Kata Jera Dalam Perjuangan”, dan secara rutin diselenggarakan juga apel siaga dan pertemuan dengan Dewan Mahasiswa Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Gerakan itulah yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 77/78.

Mahasiswa bangkit melawan penindasan dan kediktatoran yang melayani hegemoni asing di semua sektor kehidupan. Kebijakan NKK/BKK dilahirkan untuk melumpuhkan tugas suci Pengabdian Sosial sebagai salah satu basis Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) berfungsi sebagai landasan filosofisnya ditujukan untuk mengurung mahasiswa dalam kelumpuhan sensistivitas sosial dan kebangsaan sedemikian sehingga hanya menginginkan mahasiwa untuk menjadi teknokrat dalam suatu ‘technocratic society’ yang mengabdi pada sistem yang mereka kuasai, di bawah linangan air mata Ibu Pertiwi.

Sementara Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) adalah landasan instrumentalnya yang ditujukan untuk mengontrol semua lembaga kepemimpinan kampus untuk melayani cita cita filosofis NKK.

Setelah reformasi, kondisi kita malah merosot lebih buruk, semakin terperosok jatuh di kaki dominasi dan eksploitasi asing. Pemilu menjelang dengan bayang bayang permusuhan penuh dendam yang memerosotkan akhlak berkebangsaan. Rakyat terbelah atas kubu kubu yang didorong untuk beradu di antara mereka sehingga bisa membuat keadaan yang kontraproduktif bagi rakyat dan cita cita kemerdekaan dan persatuan nasional, cita cita keadilan dan martabat kebangsaan.

Andaikan mahasiwa bisa bangkit lagi atas nama kebangsaan dan persatuan, maka semua cita cita kekuasaan yang hanya untuk menyakiti Ibu Pertiwi pasti bisa dihalau. Bersama rakyat, mahasiwa bisa membentuk sebuah arus besar perubahan yang memastikan bahwa Indonesia bisa berjaya tanpa kekacauan dan tidak memberi tempat bagi semua ambisi kekuasaan yang melipat di dalamnya ketamakan kelompok kelompok durjana yang hanya akan memusyawarahkan methode penyerahan diri pada eskploitasi dan penindasan. Dan gerakan tersebut harus memastikan bahwa akan lahir sebuah kepemimpinan yang akuntabel dan mampu mewujudkan sebuah pasar sosial dan ekonomi yang sehat. Bagi berjayanya Indonesia yang adil, makmur dan berkeadaban tinggi.(***).

Sayuti Asyathri Aktivis Gerakan Mahasiswa Angkatan 77/78.

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini